Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
7 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Purbaya Ungkap Dana Bantuan Sumatra dari Pemangkasan “Rapat Gak Jelas”

Purbaya Ungkap Dana Bantuan Sumatra dari Pemangkasan “Rapat Gak Jelas”
Menteri Keuangan Purbaya
Jum'at, 12 Desember 2025 05:21 WIB

JAKARTA – Ketua Lembaga Perlindungan Konsumen (LPK) sekaligus tokoh ekonomi nasional, Purbaya, memantik perhatian luas setelah mengungkap bahwa dana bantuan bencana untuk wilayah Sumatera sebesar Rp60 triliun diperoleh dari efisiensi internal pemerintah, terutama pemangkasan kegiatan dan rapat yang dinilainya “gak jelas”.

Pengumuman itu disampaikan dalam konferensi pers terbaru mengenai kesiapan pemerintah merespons bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Bukan besarnya anggaran yang menjadi sorotan publik, melainkan sumber penghematan yang dinilai membuka tabir pemborosan birokrasi.

“Jadi kita bukan potong anggaran ya, efisiensi,” ujar Purbaya.

“Sudah kita lihat ada sekitar Rp60 triliun. Jadi gak usah terlalu khawatir, anggarannya ada. Bukan dari potongan anggaran tapi dari mengurangi kegiatan-kegiatan yang gak jelas, rapat gak jelas. Yang jelas sih gak apa-apa ya.”

Pernyataan tersebut langsung memicu diskusi tentang budaya penggunaan anggaran negara. Banyak pihak menafsirkan ucapan Purbaya sebagai sinyal bahwa selama ini terdapat alokasi besar untuk kegiatan yang tidak memberikan dampak nyata, terutama seremoni birokrasi yang kerap menguras anggaran.

Dari sudut kebijakan, Purbaya memastikan dana efisiensi tersebut akan digunakan untuk mempercepat penanganan bencana di Sumatera. Alokasi mencakup kebutuhan logistik, rekonstruksi infrastruktur, penyediaan hunian sementara, hingga pemulihan ekonomi masyarakat terdampak.

“Ini untuk rakyat. Kita ingin pastikan masyarakat Sumatera yang terdampak bencana mendapatkan penanganan maksimal,” tegasnya.

“Efisiensi bukan sekadar hemat, tetapi memastikan anggaran negara digunakan untuk hal yang betul-betul bermanfaat.”

Namun, istilah “rapat gak jelas” segera menjadi titik bahasan publik. Sejumlah analis menilai pernyataan itu mengungkap masalah klasik: anggaran kegiatan pemerintah yang besar namun minim hasil. Efisiensi Rp60 triliun memunculkan pertanyaan baru mengenai seberapa besar pos kegiatan serupa selama ini terserap tanpa menghasilkan manfaat signifikan.

Di sisi lain, langkah penghematan disambut positif oleh berbagai kalangan. Pemangkasan aktivitas internal dianggap tepat dalam situasi darurat bencana, terutama ketika kebutuhan masyarakat jauh lebih mendesak dibanding kegiatan administratif.

Saat ini pemerintah tengah menyusun mekanisme penyaluran dana secara rinci. Purbaya menegaskan bahwa setiap tahap distribusi akan berada di bawah pengawasan ketat melalui proses audit.

“Kita ingin transparansi di semua lini, agar anggaran sebesar ini tidak jatuh ke tangan yang salah,” jelasnya.

Pemerintah berharap upaya efisiensi ini tidak hanya mempercepat pemulihan Sumatera, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk pembenahan tata kelola anggaran negara agar lebih bersih, efektif, dan berpihak kepada masyarakat luas. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Pasar & Niaga, Balai Kota, Parlemen, Binawidya
wwwwww