Saat Sungai Membawa Kayu-Kayu Raksasa, Muncul Pertanyaan: “Siapa yang Merusak Hutan Kami?”
![]() |
| Kayu gelondongan besar terbawa arus banjir di Sumatera. (antara) |
JAKARTA – Dari balik derasnya banjir yang merendam hunian warga di Sumatera, sebuah pemandangan mengejutkan membuat publik terpaku: kayu-kayu gelondongan besar terseret arus, berguling seperti benda tak bernyawa yang tersisa dari hutan yang perlahan hilang. Video itu viral—dan berubah menjadi ruang bagi warga untuk meluapkan amarah, kecewa, dan pertanyaan yang sudah lama dipendam.
Masyarakat melihat gelondongan kayu itu bukan sebagai kebetulan, melainkan sebagai bukti bahwa hutan telah ditebang jauh sebelum banjir datang. Beberapa potongan terlihat terlalu rapi untuk disebut “pohon lapuk”, membuat publik semakin curiga bahwa kerusakan hutan adalah bagian dari penyebab bencana yang kini dialami warga.
Kementerian Kehutanan pun berada di tengah pusaran perhatian. Dirjen Gakkum Kemenhut, Dwi Januanto Nugroho, mencoba memberikan penjelasan awal: kayu-kayu itu bisa berasal dari pohon tumbang, bekas tebangan legal, material sungai, hingga area PHAT yang diizinkan untuk dikelola. Namun pernyataan itu memunculkan gelombang kontroversi.
Publik bertanya—bahkan mendesak—karena potongan kayu dalam video terlihat seperti baru ditebang. Sebagian warga berkomentar: “Kalau lapuk, kenapa potongannya rapi?”
Menanggapi reaksi besar itu, Dwi akhirnya memberikan klarifikasi lanjutan.
“Kami tidak menutup kemungkinan adanya praktik ilegal. Semua sumber kayu sedang ditelusuri,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).
Faktanya, sepanjang tahun 2025, penyidik Gakkum telah mengungkap berbagai kasus besar di Sumatera yang memperkuat dugaan masyarakat: pencucian kayu ilegal, penebangan tanpa izin, dokumen PHAT yang dipalsukan. Dari Aceh Tengah hingga Solok, dari Mentawai hingga Sipirok, jejak kejahatan kehutanan terus muncul.
“Kejahatan kehutanan saat ini bekerja dengan lebih canggih. Mereka memanfaatkan dokumen legal sebagai penyamaran,” ungkap Dwi.
Sorotan publik juga mendapat dukungan politik. Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, meminta investigasi menyeluruh agar sumber kayu yang hanyut bisa dipastikan. Menurutnya, kejelasan ini penting untuk memulihkan kepercayaan publik.
“Pemerintah harus menjawab—dari mana kayu itu berasal dan apakah ada praktik penebangan liar,” ujarnya.
Di tengah semua perdebatan ini, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan duka atas bencana dan menegaskan bahwa banjir ini adalah alarm keras bagi pengelolaan hutan Indonesia.
“Kita semua merasakan, melihat, mendengar apa yang terjadi. Ini momentum untuk memperbaiki kebijakan,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa terlalu lama ekologi dikorbankan demi ekonomi. Dan kini, masyarakat harus membayar harga dari ketidakseimbangan itu.
“Pendulumnya harus kembali ke tengah,” tuturnya.
Gelondongan kayu yang berguling di sungai Sumatera bukan sekadar objek yang hanyut. Mereka adalah peringatan nyata, pengingat bisu bahwa hutan pernah berdiri di suatu tempat—dan kini yang tersisa hanyalah batang-batang yang ikut terseret banjir bersama rumah, harapan, dan rasa aman warga.
Dan masyarakat hanya berharap satu hal: agar kebenaran tentang hutan yang hilang tidak ikut hanyut tanpa jejak. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | liputan6.com |
| Kategori | : | Kampus, Warga Bertuah, Balai Kota |











