Purbaya dan Mangkubumi Saling Klaim Warisan Takhta, Tedjowulan Merasa Dijebak
![]() |
| Konflik keraton Surakarta meruncing jelang pelantikan Raja usai Pakubuwono wafat. ( tangkapan layar instagram @kraton_solo & detikJateng/achmad hussein syauqi) |
JAKARTA – Persaingan memperebutkan takhta Keraton Surakarta kembali memanas setelah dua putra almarhum Pakubuwono XIII, Gusti Purbaya dan Mangkubumi, sama-sama menyatakan diri sebagai pewaris sah sepeninggal sang ayah pada 2 November lalu. Pertarungan klaim ini membuat dinamika internal keraton semakin tajam dan terbuka ke publik.
Gusti Purbaya, putra bungsu PB XIII dari permaisuri GKR Pakubuwana, lebih dulu menyatakan dirinya sebagai SISKS Pakubuwana XIV pada Rabu (5/11). Sejak 2022, ia telah ditetapkan ayahnya sebagai putra mahkota saat usianya baru 21 tahun.
Nama lahirnya, Gusti Raden Mas Suryo Aryo Mustiko, berubah menjadi KGPH Purbaya dan kemudian KGPAA Hamangkunegoro pada saat pengangkatan gelar.
Namun langkah Purbaya mendapat tantangan ketika Mangkubumi—putra tertua PB XIII dari istri kedua, KRAy Winari Sri Haryani—diteguhkan sebagai Pangeran Pati melalui rapat keluarga besar Keraton Surakarta di Sasana Handrawina pada Kamis (13/11). Penetapan itu dihadiri sejumlah trah raja, Sentana Dalem, dan paguyuban binaan keraton.
"Pada saat itu ada pelantikan. Pelantikan putranya Pakubuwana XIII yaitu Gusti Mangkubumi sebagai Pangeran Pati atau calon raja," ujar GPH Suryo Wicaksono atau Gusti Nenok.
Namun suasana berubah tegang ketika GKR Timoer Rumbay, kakak Mangkubumi dari istri pertama PB XIII yang kini berada di kubu Purbaya, memasuki ruangan dan memprotes keras penobatan tersebut. Ia menilai keputusan itu melanggar kesepakatan keluarga inti.
"Saya cuman sedih saja, Gusti Mangkubumi bisa berkhianat dengan kami putra-putri, kakak-kakak dan adik-adiknya," ujarnya.
Timoer juga mempersoalkan keabsahan rapat karena tidak dihadiri mayoritas keluarga inti.
"Putra-putri Pakubuwana XIII tidak ada yang hadir kecuali Mangkubumi," tegasnya.
Ia memastikan prosesi Jumenengan Purbaya sebagai Pakubuwana XIV tetap digelar pada Sabtu (15/11).
Tedjowulan Merasa Dijebak dalam Penobatan Mangkubumi
Di tengah hiruk pikuk suksesi yang belum mereda, Panembahan Agung Tedjowulan menyuarakan keberatannya. Ia mengaku merasa dijebak dalam rapat yang kemudian menjadi forum penobatan Mangkubumi sebagai Pangeran Pati.
"Saya mboten nate diajak rembukan pengukuhan dan sebagainya," ujarnya.
Tedjowulan menyebut rapat awalnya digelar untuk mengajak seluruh pihak menahan diri selama masa berkabung.
"Kenapa kok harus tergesa-gesa seperti itu? Kan sudah saya sampaikan dari awal, tunggu 40 hari minimal," jelasnya.
Menurutnya, setelah diskusi berlangsung, peserta rapat mendadak meminta dirinya menjadi saksi penobatan.
"Saya tahu-tahu dimintai untuk jadi nyekseni proses tadi," ungkapnya.
Ia mengibaratkan situasi tersebut sebagai fait accompli, keputusan yang dibuat tanpa ruang untuk menolak.
"Yo saya ini wong tuwek disungkemi, disuwuni pangestu, ya sudah saya pengestoni saja," katanya.
Tedjowulan menegaskan dirinya tak mengetahui ada agenda tambahan dan merasa langkah tersebut sengaja dirancang tanpa sepengetahuannya. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | cnnindonesia.com |
| Kategori | : | Kabar Bertuah, Opini |











