Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
9 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Rieke Diah Soroti Utang Whoosh sebagai Alarm Reformasi Transportasi Nasional

Rieke Diah Soroti Utang Whoosh sebagai Alarm Reformasi Transportasi Nasional
Kereta cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh. (foto: antara/abdan syakura).
Minggu, 09 November 2025 13:01 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Rieke Diah Pitaloka, menilai persoalan utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) tidak boleh dilihat sekadar sebagai beban keuangan, tetapi sebagai tanda penting untuk mengevaluasi tata kelola proyek infrastruktur nasional.

Menurut Rieke, langkah penyelamatan utang yang kini dibahas pemerintah dan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sistem perkeretaapian nasional serta memperbaiki manajemen investasi di sektor BUMN.

“Penyelesaian utang Whoosh tidak boleh berhenti di penyelamatan proyek. Ini harus jadi momen pembenahan menyeluruh terhadap sistem transportasi berbasis rel di Indonesia,” ujar Rieke, Minggu (9/11/2025).

Ia menilai bahwa perdebatan publik yang terus mempermasalahkan proyek tersebut dengan label negatif seperti "proyek gagal" atau "proyek busuk" justru tidak membantu. "Perdebatan itu tidak menyelesaikan apa-apa. Yang dibutuhkan sekarang adalah langkah strategis agar proyek ini memberi manfaat bagi rakyat dan memperkuat sistem transportasi nasional," tegasnya.

Proyek Whoosh sendiri dibangun dengan skema konsorsium antara China Railway dan empat BUMN besar, yaitu PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Wijaya Karya (WIKA) Tbk, PT Jasa Marga Tbk, serta PT Perkebunan Nusantara (PTPN). Namun, beberapa di antaranya kini tengah menghadapi persoalan keuangan serius.

“WIKA dan PTPN sedang menjalani restrukturisasi. Tidak mungkin mereka kembali dibebankan bunga utang Whoosh yang pada 2028 nanti berubah menjadi beban pokok. Jasa Marga pun masih menunggu keputusan pemerintah terkait kontribusinya,” paparnya.

Rieke mendorong pemerintah segera menetapkan skema penyelesaian utang yang berkeadilan, baik melalui restrukturisasi maupun renegosiasi. Namun ia menekankan, orientasinya tidak boleh sebatas menghindari gagal bayar, tetapi harus menjadi dasar memperkuat sistem perkeretaapian nasional sebagai sarana mobilitas rakyat dan pendorong ekonomi daerah.

“Restrukturisasi atau renegosiasi penting, tapi semangatnya bukan hanya menyelamatkan Whoosh. Yang harus diselamatkan adalah arah pembangunan transportasi publik agar tidak terus terjebak dalam pola bisnis yang berat sebelah,” ujarnya.

Rieke juga mengingatkan bahwa total utang proyek yang kini mencapai sekitar Rp116 hingga Rp118 triliun harus ditangani dengan perhitungan matang agar tidak menambah tekanan fiskal maupun mengorbankan BUMN lain yang sedang restrukturisasi. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:Inilah.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kampus, Cendekia, Balai Kota, Parlemen
wwwwww