Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
10 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Tangisan Ayah Korban Polisi Mabuk di Medan: “Anak Saya Belum Sadar, Tolong Tegakkan Keadilan”

Tangisan Ayah Korban Polisi Mabuk di Medan: “Anak Saya Belum Sadar, Tolong Tegakkan Keadilan”
Kasubbid Paminal Polda Sumut, Kompol Chandra saat konferensi pers di Satlantas Polrestabes Medan, Kamis (30/10/2025).
Jum'at, 31 Oktober 2025 09:15 WIB

MEDAN – Suara alat medis di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Columbia Medan terdengar lirih, bersahutan dengan isak pelan seorang ayah yang tak beranjak dari sisi ranjang anaknya.

“Lututnya retak, enam rusuknya patah, kepalanya baru dioperasi karena pecah pembuluh darah,” ujar Suratman (55), lirih menatap putrinya, Elida Delviana Tamin (27), yang belum sadarkan diri.

Elida bukan korban kecelakaan biasa. Ia ditabrak oleh mobil yang dikendarai tiga anggota Polda Sumut — Bripda VPA, Bripda ST, dan Bripda BI — dalam keadaan mabuk berat, Minggu (26/10/2025) dini hari di Jalan Merak Jingga, Medan Barat. 

Mobil Honda Mobilio hitam yang mereka tumpangi menabrak trotoar dan menyerempet Elida yang sedang berjalan di tepi jalan. Setelah kejadian, ketiganya sempat kabur karena takut diamuk massa.

“Setelah menabrak, mereka kabur dulu, lalu menyerahkan diri ke Satlantas karena takut diserang warga,” kata Kompol Chandra, Kasubbid Paminal Polda Sumut, Kamis (30/10/2025).

Kasus ini mengundang kemarahan publik. Bukan hanya karena melibatkan anggota kepolisian, tetapi juga karena tindakan itu terjadi setelah mereka berpesta di tempat hiburan malam.

“Jelas mereka mabuk dalam keadaan di bawah pengaruh alkohol. Habis itu kan dari tempat hiburan,” ujar Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry, menegaskan. 

Ketiganya kini sudah ditahan di Penempatan Khusus (Patsus) Bid Propam Polda Sumut. Pemeriksaan etik dan disiplin tengah berjalan, sementara proses pidana menunggu hasil penyelidikan Satlantas Polrestabes Medan.

“Kita sudah proses mereka, sudah dimasukkan ke Patsus, dan berkasnya dilimpahkan ke Wabprof,” jelas Chandra.

Namun di luar jalur hukum, kasus ini memunculkan pertanyaan lebih besar: di mana letak tanggung jawab moral aparat yang seharusnya menjadi pelindung masyarakat?

Bagi Suratman, ayah korban, jabatan dan seragam tak lagi berarti apa-apa. Yang ia inginkan hanya satu — keadilan bagi anaknya.

“Saya cuma mau keadilan. Anak saya enggak bersalah. Dia cuma jalan kaki malam itu,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Pengamat kepolisian di Medan menilai kasus ini sebagai cerminan krisis etika dan lemahnya pengawasan internal di tubuh Polri.

“Ketika aparat mabuk di tempat hiburan malam dan menabrak warga, ini bukan sekadar pelanggaran disiplin — ini pengkhianatan terhadap sumpah profesi,” ujar seorang analis hukum.

Kecelakaan di Jalan Merak Jingga menjadi pengingat bahwa di balik slogan Presisi dan profesionalisme, masih ada pekerjaan rumah besar bagi Polri: memulihkan moral dan akhlak para penegak hukum.

Sementara Elida masih berjuang di ruang perawatan, publik menunggu langkah nyata institusi kepolisian. Apakah kasus ini akan berakhir dengan sanksi internal semata, atau menjadi momentum refleksi bahwa tidak ada seragam yang kebal dari hukum dan nurani. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Cendekia, Warga Bertuah
wwwwww