Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
12 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Figur Asing di Kursi Puncak KCIC, Menakar Pengaruh China dalam Arah Infrastruktur Indonesia

Figur Asing di Kursi Puncak KCIC, Menakar Pengaruh China dalam Arah Infrastruktur Indonesia
Zhong Shenggui (Komisaris Utama KCIC) (Foto: KCIC)
Jum'at, 31 Oktober 2025 06:53 WIB

JAKARTA – Nama Zhong Shenggui mungkin asing di telinga publik Indonesia. Namun di balik kecepatan 350 km/jam dan gemerlap pencapaian kereta cepat Whoosh, sosok asal Tiongkok ini memegang posisi kunci sebagai Komisaris Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) — perusahaan yang mengelola proyek transportasi paling ambisius di negeri ini.

Keberadaannya di kursi tertinggi komisaris jarang disorot publik. Namun kehadirannya menegaskan satu hal: pengaruh Tiongkok bukan hanya hadir dalam teknologi dan pembiayaan proyek, tetapi juga dalam struktur pengambil keputusan strategis.

Proyek KCIC sejak awal digadang sebagai simbol kemajuan Indonesia di era Presiden Joko Widodo. Namun di balik itu, proyek ini juga menjadi cerminan eratnya hubungan ekonomi dua negara. Kini, dengan total utang mencapai US$7,27 miliar atau lebih dari Rp118 triliun, KCIC dan pemerintah Indonesia tengah menata ulang pembiayaan lewat perpanjangan tenor pinjaman hingga 60 tahun bersama China Development Bank (CDB).

Di tengah sorotan publik terhadap beban utang itu, nama Zhong Shenggui muncul sebagai figur penting yang menentukan arah kebijakan perusahaan. Berdasarkan rekam jejak internasionalnya, Zhong bukan sekadar eksekutif korporasi, melainkan bagian dari jaringan strategis proyek infrastruktur global Tiongkok.

Ia diketahui menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi China–Kyrgyzstan–Uzbekistan Railway Company LLC (CKU) — proyek lintas negara sepanjang 523 kilometer yang menjadi bagian dari inisiatif Belt and Road Initiative (BRI). Jalur ini memperpendek waktu logistik dari Asia Timur menuju Asia Tengah, sekaligus memperluas konektivitas ekonomi Eurasia yang menjadi prioritas geopolitik Beijing.

Pada Desember 2024, Zhong menandatangani kesepakatan investasi penting dengan pemerintah Kirgistan, mencakup pembangunan, pembiayaan, hingga pengelolaan jangka panjang proyek CKU. Jejak tersebut menunjukkan bahwa posisi Zhong di KCIC bukan sekadar administratif, tetapi representatif dari visi strategis Tiongkok dalam proyek global BRI.

Melalui KCIC, hubungan ekonomi dua negara termanifestasi secara konkret. Struktur pendanaan proyek Whoosh memperlihatkan dominasi Tiongkok, di mana 75 persen biaya pembangunan dibiayai oleh pinjaman China Development Bank, sementara 25 persen berasal dari konsorsium BUMN Indonesia melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

PSBI terdiri atas empat BUMN besar — PT Kereta Api Indonesia, PT Wijaya Karya, PT Perkebunan Nusantara I, dan PT Jasa Marga — dengan porsi 60 persen. Sementara mitra Tiongkok diwakili oleh Beijing Yawan HSR Co. Ltd., yang sahamnya dikuasai oleh sejumlah raksasa seperti China Railway Engineering Corporation (CREC) dan Sinohydro.

Dalam konteks ini, posisi Zhong Shenggui menjadi simbol dari apa yang disebut sejumlah pengamat sebagai soft power ekonomi Tiongkok di Asia Tenggara. Ia bukan sekadar pejabat asing di perusahaan patungan, tetapi bagian dari diplomasi ekonomi yang beroperasi lewat jalur investasi dan proyek strategis.

Bagi sebagian kalangan, kehadiran Zhong juga menimbulkan pertanyaan tentang kedaulatan pengambilan keputusan dalam proyek yang berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN). Sebab, posisi strategis di pucuk manajemen KCIC kini dipegang figur yang memiliki afiliasi kuat dengan pemerintah dan perusahaan negara Tiongkok. 

Namun bagi pihak lain, kehadiran Zhong justru dianggap bentuk transfer pengetahuan dan teknologi, sekaligus memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok di bidang infrastruktur.

Terlepas dari pro dan kontra itu, satu hal jelas: Zhong Shenggui bukan sekadar nama asing di balik meja KCIC. Ia adalah representasi dari arah baru kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok, di mana investasi, utang, dan pengaruh politik berjalan beriringan di atas rel cepat yang menghubungkan Jakarta dan Bandung. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Kabar Bertuah, Balai Kota
wwwwww