AS–China Memanas Lagi, Ancaman Tarif Trump Bisa Guncang Pasar Energi Global
![]() |
| Ilustrasi kilang minyak. Harga minyak mentah naik karena sanksi AS Terhadap Rusia. |
BEIJING – Hubungan Amerika Serikat (AS) dan China kembali berada di tepi jurang konfrontasi dagang. Presiden Donald Trump mengancam akan menerapkan tarif impor 50–100 persen terhadap barang dari China, buntut keputusan Beijing yang tetap membeli minyak mentah dari Rusia.
China langsung menepis ancaman itu. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, menegaskan negaranya tak akan tunduk pada tekanan sepihak Washington. “China memiliki hak sah untuk bekerja sama dengan negara mana pun, termasuk Rusia. Ancaman AS adalah bentuk pemaksaan ekonomi dan intimidasi,” ujarnya, Senin (15/9/2025).
Trump sebelumnya menyatakan tarif besar terhadap China diperlukan untuk menghentikan aliran dana ke Rusia, seraya menuding NATO masih “setengah hati” menekan Moskow. Ia bahkan mendesak NATO mengadopsi tarif serupa terhadap Beijing.
Namun, China menilai langkah itu justru bisa mengguncang rantai pasokan global. Lin Jian mengingatkan, strategi sanksi dan tarif sepihak terbukti tidak pernah menyelesaikan konflik. “Jika kepentingan China dirugikan, kami akan merespons dengan tindakan balasan yang setimpal,” tegasnya.
Krisis energi akibat perang Ukraina memang telah memecah dunia. Uni Eropa dan negara-negara G7 berkomitmen menghentikan impor minyak Rusia, tetapi Moskow menemukan pasar baru di Asia, terutama China dan India. Langkah ini membuat Washington semakin frustrasi.
Sementara itu, sebagian analis memperingatkan bahwa jika ancaman Trump benar-benar diwujudkan, dunia bisa menghadapi babak baru perang dagang antara dua raksasa ekonomi global. Dampaknya tak hanya pada hubungan bilateral, tetapi juga pada harga energi dan barang kebutuhan di seluruh dunia. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Kuliner |










