Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
11 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
6
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Lihat Data dan Fakta Jika Ingin Bandingkan STY, Gerald Venenburg dan Patrick Kluivert

Lihat Data dan Fakta Jika Ingin Bandingkan STY, Gerald Venenburg dan Patrick Kluivert
Geralld Vanenburg. (PSSI)
Jum'at, 12 September 2025 20:33 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Founder Football Institute Budi Setiawan menguak data dan fakta perbandingan objektif antara peltih asal Korea Selatan Shin Tae-yong dan pelatih asal Belanda Gerard Vanenburg di level Timnas U-23 Indonesia, serta antara Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert di level Timnas senior Indonesia.

“Saya merelease sesuai data dan fakta yang mereka capai selama menangani Timnas Indonesia. Jadi, masyarakat sepakbola bisa memahaminya,” kata Budi Setiawan di Jakarta, Jumat (12/9/2025).  

Dari data yang dikumpulkan, Budi menyebut, Shin Tae-yong yang sejak 2021 mendapat kepercayaan PSSI tercatat sudah memimpin 21 laga Timnas U 23. Hasilnya, 11 kemenangan, 10 kekalahan tanpa hasil imbang. Sebanyak 57 gol yang tercipta dan 42 kebobolan.

Pada tahun pertamanya, STY meraih dua kemenangan dan dua kekalahan dari empat pertandingan (rasio kemenangan 50%). Di ajang SEA Games U-23, ia mempersembahkan medali perunggu usai menang adu penalti melawan Malaysia. Namun, di Kualifikasi Piala Asia U-23 pertamanya, Indonesia gagal lolos setelah kalah dari Australia.

Berbeda dengan Gerard Vanenburg yang mulai menangani Timnas U 23 Indonesia pada tahun 2025. Debutnya, kata Budi, cukup meyakinkan. Timnas U23 meraih kemenangan telak 8-0 atas Brunai Darussalam di Piala AFF U 23 2025. Kemenangan yang tidak pernah dicapai Shin Tae-yong.

Dari hasil 8 laga yang telah dilalui Timnas U 23, Vanenburg mencatat 4 kemenangan (1 lewat adu penalti), 2 kekalahan, dan 2 hasil imbang. Sebanyak, 22 gol tercipta dan 9 kebobolan.

“Meski juga mencatat rasio kemenangan 50% seperti STY di tahun pertama, Vanenburg tampil lebih stabil dengan dua hasil imbang dan jumlah pertandingan lebih banyak. Namun, sama seperti STY, ia gagal membawa Timnas U-23 lolos ke Piala Asia U-23,” jelasnya.

“Yang perlu dicatat STY sempat mendapat fasilitas training camp di Tajikistan, yang sangat membantu dalam membentuk karakter tim dan strategi permainan. Sebaliknya, Vanenburg bekerja tanpa kemewahan tersebut,” tambahnya.

WartaPKU.com Shin Tae-yong. (PSSI)
Shin Tae-yong. (PSSI)

Selanjutnya, Budi Setiawan juga memaparkan secara detail perbedaan Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert yang menangani Timnas Senior Indonesia. Shin Tae-yong memimpin timnas senior selama hampir empat tahun sejak 2021 dengan total 60 pertandingan. Hasilnya, 26 kemenangan, 14 imbang, dan 20 kekalahan.

Di tahun pertamanya, STY mencatat 46,7% kemenangan, 20% imbang, dan 33% kalah. Ia membawa Indonesia menjadi runner-up Piala AFF 2022 dan meraih dua kemenangan penting di Kualifikasi Piala Asia.

Di Kualifikasi Piala Dunia 2022, STY mengambil alih tim dari Simon McMenemy yang sebelumnya gagal total di Grup G. STY mencatat satu hasil imbang dan dua kekalahan sebelum akhirnya tersingkir.

Sementara itu, Patrick Kluivert yang baru ditunjuk sebagai pelatih timnas pada Januari 2025, langsung dihadapkan dengan tantangan besar di sisa laga Kualifikasi Piala Dunia 2026 menggantikan STY.

Meski berat, Patrick membawa Indonesia lolos ke ronde keempat dengan dua kemenangan atas China dan Bahrain, dan dua kekalahan dari Jepang dan Australia. Capaian ini sebagai buah dari kerja berkelanjutan antara STY dan Kluivert.

“Secara keseluruhan, Kluivert sudah melakoni enam laga bersama timnas Indonesi dengan rincian 3 kali kemenangan, 1 kali imbang, dan 2 kali kalah,” ujarnya.

Dari data tersebut, kata Budi, secara prestasi baik STY, Patrick Kluivert dan Gerard Vanenburg di tahun pertamanya tidak berbeda jika bicara presentase statistik. “Namun, jika bicara tekanan mental dan supporter, Patrick Kluivert harus menghadapi tekanan lolos Round 4 Kualifikasi Piala Dunia dan Gerard Vanenburg berada dalam tekanan lolos ke Piala Asia U23 dan Olimpiade 2028," jelasnya.

Menurut Budi, keberhasilan pelatih butuh waktu dan proses. STY, misalnya, baru membawa Timnas U-23 lolos ke Piala Asia pada tahun keempat. "Sementara Patrick Kluivert justru berhasil membawa Indonesia lolos ke Round 4 setelah tiga bulan ditunjuk sebagai pelatih timnas senior," jelasnya.

WartaPKU.com Patrick Kluivert. (PSSI)
Patrick Kluivert. (PSSI)

Perbandingan Materi Pemain

Vanenburg dan STY memang sama-sama gagal membawa timnas U23 ke Putaran Final Piala Asia di tahun pertamanya. Tetapi, kata Budi, materi skuad timnas U-23 yang lolos Semi Final AFC U23 Asian Cup Qatar 2024 adalah materi pemain yang sudah berinteraksi lama dengan pelatih sebelumnya.

Setidaknya sejak 2021 pemain seperti Ernando Ari, Rizky Ridho, Pratama Arhan, Marcelino dan Witan Sulaiman plus naturalisasi seperti Ivar Jenner, Justin Hubner, Nathan Tjoe A On dan Rafael Struick telah lama berproses dengan pelatih sebelumnya. "Tidak tepat jika dibandingkan dengan skuad timnas U-23 di bawah Vanenburg yang masih dalam hitungan bulan dan minggu dalam persiapan timnas U23," jelasnya.

Menurut Budi, tidak tepat membandingkan pelatih masa lalu dan masa sekarang karena kondisi dan waktunya berbeda. Makanya, dia menyematkan kredit tinggi kepada Patrick Kluivert. Alasannya, Patrick membawa Indonesia lolos ke Round 4 Kualifikasi Piala Dunia dengan lawan yang secara kualitas dan ranking berada di atas Indonesia tanpa mendapat kesempatan TC. ***

wwwwww