Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
7 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Hukum

SMA Negeri 5 Bukittinggi Disegel Warga, Protes Anak Sekitar Gagal Masuk Sekolah

SMA Negeri 5 Bukittinggi Disegel Warga, Protes Anak Sekitar Gagal Masuk Sekolah
Foto: SMA Negeri 5 Bukittinggi disegel warga hingga mengakibatkan aktivitas hari pertama sekolah terganggu. (dok. istimewa)
Rabu, 16 Juli 2025 19:51 WIB

BUKITTINGGI – Hari pertama sekolah di SMA Negeri 5 Bukittinggi, Sumatera Barat, diwarnai ketegangan. Pintu sekolah digembok warga setempat, Senin pagi (14/7/2025), sehingga seluruh aktivitas belajar mengajar dan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) terhenti total.

Aksi penyegelan dilakukan warga Parik Paga Nagari, Kecamatan Koto Selayan. Mereka mengaku kecewa lantaran anak-anak dari lingkungan sekitar tidak diterima dalam seleksi masuk SMA tersebut.

"Untuk SMA ini ada delapan anak kemenakan kami yang tidak diterima. Secara keseluruhan dari Koto Selayan, ada 35 orang yang gagal masuk," ujar tokoh masyarakat, Hasanuddin Sutan Rajo Bungsu.

Hasanuddin menegaskan, saat sekolah dibangun bertahun-tahun lalu, telah ada kesepakatan dengan pihak sekolah bahwa anak-anak dari nagari akan diprioritaskan untuk masuk SMA Negeri 5 Bukittinggi. "Ini tanah pusaka kami. Kami menjaga sekolah ini sejak awal berdiri. Kami hanya menuntut agar hak anak-anak kami untuk mengenyam pendidikan dipenuhi," tegasnya.

Aksi ini bukan yang pertama. Ia menyebut penyegelan serupa juga pernah dilakukan pada 2017, dengan tuntutan yang sama.

Kepala Cabang Dinas Wilayah 1 Sumbar, Willia Zuwerni, mengakui pihaknya masih berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi di Padang untuk menyikapi tuntutan warga. Ia menjelaskan proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) masih berlangsung hingga 17 Juli.

"Sesuai aturan, kita ikuti alur SPMB yang sedang berjalan. Tapi soal tuntutan warga, belum bisa dipastikan apakah anak-anak yang belum lolos itu akan diterima," katanya.

Situasi ini memunculkan sorotan terhadap sistem penerimaan siswa di sekolah negeri, terutama soal transparansi dan keadilan bagi warga sekitar. Warga berharap pemerintah menepati komitmen lama agar sekolah negeri tidak menjadi institusi yang menjauh dari komunitasnya sendiri.***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:detik.com
Kategori:Kampus, Hukum
wwwwww