Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
2
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
3
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
4
Mabes Polri Larang Personel Isap Vape, Antisipasi Narkotika Cair Beredar di Pekanbaru
Nasional
2 jam yang lalu
Mabes Polri Larang Personel Isap Vape, Antisipasi Narkotika Cair Beredar di Pekanbaru
5
Pemprov Riau Gelar Pasar Murah di Empat Titik Pekanbaru, Cek Jadwal Lengkap dan Lokasinya
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Pemprov Riau Gelar Pasar Murah di Empat Titik Pekanbaru, Cek Jadwal Lengkap dan Lokasinya
6
Pemkot Pekanbaru Muluskan Jalan Puyuh Mas, Anggota DPRD Hamdani MS Ingatkan PR Perbaikan Drainase
Parlemen
50 menit yang lalu
Pemkot Pekanbaru Muluskan Jalan Puyuh Mas, Anggota DPRD Hamdani MS Ingatkan PR Perbaikan Drainase
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Buta Usai Cabut Gigi, Pria di Padang Pariaman Dapat Santunan Rp1 Juta, Keluarga Tuntut Keadilan

Buta Usai Cabut Gigi, Pria di Padang Pariaman Dapat Santunan Rp1 Juta, Keluarga Tuntut Keadilan
Sabtu, 12 Juli 2025 08:18 WIB

PADANGPARIAMAN – Hengki Saputra (30), warga Padang Pariaman, Sumatera Barat, mengaku kehilangan penglihatan setelah menjalani prosedur cabut gigi di sebuah klinik pada tahun 2022 lalu. Merasa menjadi korban malpraktik, keluarga Hengki pun membawa kasus ini ke jalur hukum. Namun, perjuangan mencari keadilan itu kandas setelah penyelidikan dihentikan.

Ibu Hengki, Nurhasni, mengatakan anaknya yang dulunya menjadi tulang punggung keluarga, kini harus bergantung pada orang lain karena mengalami kebutaan permanen. Sebelum insiden terjadi, Hengki mengelola bengkel peninggalan ayahnya.

“Kami hanya ingin keadilan. Hengki kehilangan masa depannya. Tapi kami justru diabaikan,” kata Nurhasni, Jumat (11/7/2025).

Nurhasni mengungkap pihak klinik sempat memberikan santunan sebesar Rp1 juta secara bertahap selama lima bulan, namun kemudian memutus komunikasi. Ia juga menyebut sempat diminta menandatangani selembar kertas kosong saat mendampingi Hengki dalam proses medis.

Kasus dugaan malpraktik ini dilaporkan awal tahun 2025, namun penyelidikan dihentikan setelah polisi menyebut penyebab kebutaan Hengki adalah tumor otak, bukan karena pencabutan gigi.

“Kami mendapati hasil radiologi yang menunjukkan adanya tumor yang menekan saraf penglihatan,” jelas Kanit II Satreskrim Polres Pariaman, Ipda Optah Jhonedi.

Pihak kepolisian merujuk pada hasil pemeriksaan RS Awal Bros Pekanbaru dan RSUD M Djamil Padang yang menyatakan adanya tumor sebagai penyebab kebutaan. Dokter ahli radiologi juga menyimpulkan hal yang sama.

Meski begitu, Nurhasni masih meyakini ada kejanggalan dalam penanganan medis yang dialami anaknya. Ia berharap penyelidikan kasus ini dibuka kembali, dengan menekankan bahwa keluarga masih menyimpan sejumlah bukti yang belum dianalisis. ***

wwwwww