Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
2
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
Nasional
6 jam yang lalu
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
12 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
6
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Lahir Akhir Juni, Bayi Harimau Sumatera Mati di TMSBK Bukittinggi karena Dehidrasi dan Stres Indukan

Lahir Akhir Juni, Bayi Harimau Sumatera Mati di TMSBK Bukittinggi karena Dehidrasi dan Stres Indukan
Foto: Kepala BKSDA Sumbar, Hartono. (jeka kampai/detiksumut)
Rabu, 02 Juli 2025 22:08 WIB

BUKITTINGGI – Seekor bayi Harimau Sumatera yang baru lahir di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK), Bukittinggi, ditemukan mati akibat malnutrisi dan dehidrasi. Bayi harimau itu lahir pada 24 Juni 2025 dari pasangan harimau Bujang Mandeh dan Yani.

Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, menyampaikan bahwa kematian anak harimau tersebut terjadi pada Selasa (1/7/2025), pukul 09.00 WIB. Pemeriksaan medis atau nekropsi saat ini masih dilakukan untuk memastikan penyebab pasti kematiannya.

"Anak harimau mengalami malnutrisi dan dehidrasi. Cuaca ekstrem juga menjadi salah satu faktor. Berdasarkan hasil pemeriksaan tim medis, anak harimau dinyatakan mati," ujar Hartono, Rabu (2/7/2025).

Hartono menjelaskan bahwa bayi harimau yang mati bukan Rizky atau Lestari—dua anak harimau yang lahir sebelumnya. "Anak harimau ini lahir sekitar satu minggu setelah kunjungan ibu Titiek Soeharto," jelasnya.

Menurut pantauan tim medis, indukan harimau mengalami stres lima hari pascaproses melahirkan. Bayi harimau tampak dipindah-pindahkan dan digigit. Indukan juga menunjukkan tanda-tanda menolak menyusui.

"Karena kondisi induk yang stres, anak harimau tidak mendapatkan asupan susu. Tim medis memutuskan untuk memisahkan anak dari induk dan memberikan susu kambing sebagai pengganti nutrisi," paparnya.

Hartono menambahkan bahwa bayi harimau ini merupakan generasi keenam dari indukan Yani. Dari generasi pertama hingga kelima, sebagian besar mengalami kelainan. Tim medis tengah menelusuri kemungkinan adanya faktor genetik yang memengaruhi kondisi anak-anak harimau tersebut.

Setelah pemeriksaan selesai, bangkai bayi harimau akan dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku. ***

wwwwww