Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
Gelanggang
21 jam yang lalu
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
2
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
20 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
3
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Sepakbola
18 jam yang lalu
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
4
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
Gelanggang
21 jam yang lalu
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
5
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
7 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
6
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Sepakbola
3 jam yang lalu
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Eksploitasi Alam Demi Rakyat Dinilai Salah, Siapa yang Untung?

Eksploitasi Alam Demi Rakyat Dinilai Salah, Siapa yang Untung?
Kamis, 26 Juni 2025 18:17 WIB
JAKARTA - Kritik terhadap pemanfaatan sumber daya alam Indonesia dinilai penuh standar ganda. Negara-negara maju yang pernah melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap alam mereka kini justru paling vokal mengkritik langkah negara berkembang dalam mengelola kekayaan alam demi pembangunan nasional.

Dalam forum geopolitik yang digelar di Jakarta, Selasa (24/6/2025), disampaikan bahwa negara-negara Barat pada dekade 1940-an hingga 1960-an membabat hutan, mengeruk tambang, dan memanfaatkan sumber daya tanpa banyak memperhitungkan dampak lingkungan. Saat itu, pembangunan dianggap prioritas utama demi keluar dari krisis dan kemiskinan.

"Negara-negara tersebut dulunya juga punya utang besar dan SDA melimpah. Mereka keruk habis-habisan untuk jadi maju. Tapi ketika kita memulai langkah serupa, justru mereka yang paling keras menentang," kata seorang pejabat dalam pidatonya di forum bertema Geoeconomic Fragmentation and Energy Security.

Ia mempertanyakan mengapa negara berkembang seperti Indonesia harus selalu tunduk pada tekanan lingkungan global, sementara negara yang lebih dulu maju justru dibiarkan tanpa pengawasan serupa. "Apa karena kita baru mulai membangun dari sumber daya sendiri? Lalu kenapa mereka merasa terganggu?" tambahnya.

Menurutnya, kedaulatan dalam pengelolaan sumber daya alam adalah hak setiap negara. Ia menilai intervensi atas nama lingkungan kerap menutupi kepentingan ekonomi negara-negara besar yang tidak ingin kehilangan kendali atas pasar global.

"Negara kita butuh pembangunan, rakyat butuh pekerjaan, dan itu semua bisa dimulai dari SDA yang kita miliki. Jangan ada negara yang merasa lebih tinggi dan mengatur negara lain dalam menentukan jalan menuju kemajuan," tegasnya.

Pernyataan ini muncul di tengah sorotan tajam terhadap proyek pertambangan dan pembukaan lahan di Indonesia. Meski menuai kritik, pemerintah menegaskan bahwa pengelolaan SDA dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan semangat menciptakan nilai tambah untuk masyarakat. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Kampus, Cendekia, Pasar & Niaga, Balai Kota, Parlemen
wwwwww