Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
16 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
2
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
19 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Menguak Pertempuran Lifter Binaan Pelatih Angkat Besi Indonesia di Olimpiade 2024 Paris

Menguak Pertempuran Lifter Binaan Pelatih Angkat Besi Indonesia di Olimpiade 2024 Paris
Yon Haryono bersama Muhamad Aniq. (Dok.Pribadi)
Kamis, 08 Agustus 2024 22:45 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Ada yang menarik di cabang olahraga angkat besi Olimpiade 2024 Paris. Ternyata lifter-lifter  yang bersaing di kelas 61kg dan 67kg pada multi olahraga akbar empat tahunan merupakan produk pelatih angkat besi Indonesia. Otomatis, persaingan pelatih angkat besi Indonesia yang terjadi di SEA Games 2023 Kamboja berlanjut ke Olimpiade 2024 Paris.

Pelatih Angkat Besi Indonesia Erwin Abdullah dan kawan-kawan bersaing dengan mantan pelaih nasional angkat besi Indonesia Lukman yang menangani Tim Angkat Besi Thailand dan Yon Darsono yang menangani Tim Angkat Besi Malaysia untuk memperebutkan medali.

Di Paris, Lukman yang sukses meloloskan dua lifter putra Thailand hasil binaannya telah sukses menyumbangkan medali. Begitu juga dengan Yon Haryono yang juga telah meloloskan dua lifter Malaysia tidak ke Paris karena sudah mundur dari Tim Angkat Besi Malaysia terkait masalah keluarga.

Lifter Thailand Theerapong Silachai yang berusia 20 tahun berhasil membuat kejutan dengan meraih medali perak di kelas 61kg yang di dua Olimpiade sebelumnya milik lifter andalan Indonesia Eko Yuli Irawan. Sedangkan lifter Malaysia, Mohamad Aniq bin Kasdan hasil binaan Yon Daryono hanya menempati peringkat keempat.

“Muhamad Aniq itu murni hasil binaan saya dari tidak mengenal olahraga angkat besi. Dalam kurun 6 tahun dibina, dia mampu memecahkan rekor Asia junior pada tahun 2022 untuk angkatan Clean & Jek 160kg melebihi rekor sebelumnya 159kg. Harusnya dia mampu meraih medali perunggu pada penampilan perdana di Olimpiade 2024 Paris tetapi itu tidak bisa diraihnya karena strategi pelatih yang salah. Karena, dia yang sudah sukses melakukan angkatan Snatch 130kg dan pada percobaan angkatan pertama Clean and Jerk 167kg itu dipaksa melakukan percobaan angkatan kedua dan ketiga seberat 174kg hanya karena ambisi ingin menggeser posisi anak didik Lukman. Akibatnya, dia gagal menggeser posisi lifter Amerika Serikat Moris Hampton yang meraih perunggu dengan total angkatan 198kg (Snatch 126kg dan Clean & Jerk 172kg),” kata Yon Haryono yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia saat dihubungi Gonews.co Group, Kamis (8/8/2024).

“Harusnya pelatih Malaysia yang mendampinginya menaikkan angkatan Clean & Jerk 170kg karena telah mengamankan angkatan Snatdh 130kg sehingga bisa mengamankan medali perunggu lebih dulu dengan total angkatan 300kg. Bukan memaksanya melakukan angkatan melebihi angkatan terbaiknya 171kg saat latihan. Baru setelah angkatan kedua itu sukses bisa dinaikkan menjadi 174kg untuk mendapatkan medali perak. Ibaratkan Malaysia sudah memegang burung di tangan malah memilih mengejar burung yang terbang,” tambahnya.

Lalu, Wichuma Weeraphon akan bersaing dengan Rizki Juniansyah dan Mohammad Aznil di kelas 73kg yang akan dimainkan Jumat, 9 Agustus 2024 pukul 01.00 WIB dinihari. “Mohammad Aznil itu memang saya yang melatih untuk persiapan menuju Olimpiade 2024 Paris tetapi bukan hasil binaan saya,” katanya.

Disinggung mengenai peluang Rizki Juniansyah, Yon Haryono menjawab,”Peluang Rizki cukup besar dengan catatan mentalnya harus kuat dan juga penerapan strategi yang tepat. Dan, saya yakin Triyatno bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.”  

Terkait kegagalan Eko Yuli Irawan mempersembahkan medali pada penampilan kelimanya di Olimpiade 2024 Paris, Yon Haryono menyebut akibat cederanya kambuh.  Hal itu, katanya, bisa saja akibat penurunan berat badan drastis yang dilakukan Eko untuk bisa tampil di kelas 61kg. “Infonya sih Eko itu kelebihan berat badan 6kg saat berada di Paris.  Karena, Eko yang sudah berusia 35 tahun itu cederanya kambuh karena memaksa menurunkan berat badan,” jelasnya. ***

wwwwww