Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
20 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
6
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
9 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Home  /  Berita  /  Kampus

DPR Dorong Investigasi Dugaan Kerugian Negara dalam Pengadaan Alat Antigen

DPR Dorong Investigasi Dugaan Kerugian Negara dalam Pengadaan Alat Antigen
Ilustrasi tes antigen. (foto: ist./dok.cnbc)
Selasa, 31 Mei 2022 09:35 WIB
JAKARTA - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI dikabarkan menemukan kejanggalan dalam pengadaan alat tes antigen Covid-19 di Kementerian Kesehatan periode 2020-2022. Informasi ini direspons secara tertulis oleh anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher sebagaimana dibaca di Jakarta, Selasa (31/5/2022).

Menurut Netty, temuan BPK ini harus diinvestigasi. Data yang Ia terima, terjadi kelebihan stok alat tes antigen pada periode itu. "Kebutuhan hanya 14 juta unit, namun stok mencapai 18,33 juta unit."

"Disinyalir sebagian alat tes tersebut tidak memenuhi spesifikasi aspek kedaluwarsa. Ini membuat negara mengalami kerugian yang tidak sedikit," kata Netty sebagaimana dikutip GoSumbar.com.

Selain itu, menurut Netty adanya pengadaan oleh satu perusahaan yang sama juga menimbulkan tanda tanya tersendiri. Karena itu, ia meminta pemerintah benar - benar melakukan investigasi temuan BPK atas kejanggalan tersebut.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:Cendekia, Kampus
wwwwww