Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
2
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
3
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
4
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
5
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
3 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Home  /  Berita  /  Gelanggang

Persaingan Sangat Ketat di Tunggal Putri Kata Susi Susanti

Persaingan Sangat Ketat di Tunggal Putri Kata Susi Susanti
Putri Kusuma Wardani (Foto: Badminton Indonesia)
Rabu, 20 April 2022 22:39 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Indonesia harus kerja keras untuk meraih medali  di tunggal putri pada  SEA Games 2021 Vietnam atau Asian Games 2022 Hangzhou. Penyebabnya, kata legenda bulutangkis Indonesia, Susi Susanti karena persaingan sangat ketat.

Dalam wawancara dengan NOC Indonesia, Susi mengatakan bahwa Indonesia bersaing dengan banyak negara di Asia. "Di tunggal putri, banyak pemain tangguh dari Asia, sehingga persaingannya ketat. Kita harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan medali," kata Susi tentang peluang Indonesia di SEA Games dan Asian Games.

Peraih delapan medali SEA Games itu mengatakan Indonesia perlu memperhatikan setidaknya sembilan negara Asia. “Dari ranking dunia dan turnamen, selain China, Jepang, dan Korea Selatan juga ada China Taipei, Thailand, India, Hongkong, Singapura, dan Malaysia,” jelas Susi. Indonesia terakhir membawa pulang medali emas tunggal putri di SEA Games 2013. Bellaetrix Manuputty meraih emas setelah mengalahkan Busanan Ongbamrungphan dari Thailand (9-21, 21-13, 21-13).

Di Asian Games, Indonesia baru sekali meraih medali emas. Pada Asian Games 1962 di Jakarta, Minarni keluar sebagai yang teratas dalam Final All-Indonesia, mengalahkan Corry Kawilarang.

Susi mengatakan ada beberapa faktor yang membuat sulit bersaing dengan negara lain. “Kami tidak memiliki banyak talenta yang masuk dibandingkan dengan putra. Itu berdampak pada regenerasi, lagi-lagi dibandingkan dengan tunggal atau ganda putra. Itu sebabnya di sektor putri, kami belum berada di tempat yang kami inginkan dalam hal pencapaian,” ujarnya.

Namun Susi meyakini PP PBSI (Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) telah menyiapkan program pembinaan untuk mencetak generasi atlet penerus. “Saya yakin PBSI telah menyiapkan program pembangunan untuk semua sektor, tidak hanya putri. Kita perlu bekerja keras untuk menghasilkan pemain generasi penerus dan menciptakan prestasi baru,” tambah Susi.

Susi menyebut ada dua pemain yang menarik perhatian. Baik Gregoria Mariska maupun Putri Kusuma Wardani adalah pemain yang harus diperhatikan di tunggal putri. "Gregoria Mariska masih menjadi andalan kami di tunggal putri. Tapi kami juga punya Putri KW (Kusuma Wardani). Dia mulai menunjukkan potensinya," pungkas Susi. ***

wwwwww