Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
22 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
2
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
Parlemen
22 jam yang lalu
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
3
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
22 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
4
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
5
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
6
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Gelanggang
3 jam yang lalu
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Dapat Perlakuan Diskriminatif, Mualaf Anita Nayyar Pernah Sholat di Tempat Parkir

Dapat Perlakuan Diskriminatif, Mualaf Anita Nayyar Pernah Sholat di Tempat Parkir
Ilsutrasi muslim berhijab. (Foto: Istimewa)
Rabu, 23 Juni 2021 04:00 WIB
LONDON - Psikolog yang juga aktivis kesetaraan gender, Anita Nayyar, berkisah tentang awal-mula hingga akhirnya dia memutuskan masuk Islam. Anita adalah seorang Anglo-India dengan kakek-nenek Hindu yang hidup melalui pemisahan India dan Pakistan. Bahkan dia melihat keluarganya ditembak oleh kelompok Muslim.

"Saya dibesarkan dengan pandangan yang agak redup tentang apa artinya menjadi Muslim. Saya adalah seorang Kristen yang sangat religius, terlibat dalam gereja, dan ingin menjadi pendeta," kata dia dilansir dari laman The Guardian, Senin (21/6).

Pada usia 16, Anita memilih perguruan tinggi sekuler dan berteman dengan kalangan Muslim. Dia pun terkejut dengan betapa normalnya mereka, dan betapa ia menyukai mereka.

"Saya pun memulai perdebatan, awalnya untuk memberi tahu mereka betapa buruknya agama yang mereka ikuti, dan saya mulai belajar bahwa itu tidak terlalu berbeda dengan Kekristenan. Bahkan, tampaknya lebih masuk akal," ujarnya.

Butuh waktu satu setengah tahun bagi Anita sebelum sampai pada titik untuk masuk Islam. "Dan saya menjadi seorang Muslim pada tahun 2000, berusia 18 tahun. Ibu saya kecewa dan ayah saya diam-diam menerima. Anggota keluarga saya yang lain merasa dikhianati," ungkapnya.

Anita dulu memakai syal di kepalanya yang bisa berarti banyak hal. Ini bisa menjadi penanda iman seseorang, yang berguna ketika Anda tidak ingin diceramahi atau diajak minum alkohol. Hal ini juga dapat menarik perhatian negatif dari orang-orang yang menstereotipkan perempuan Muslim yang terlihat sebagai tertindas atau teroris.

"Namun hal ini juga bisa mendapatkan reaksi positif dari masyarakat muslim. Tetapi orang-orang mengharapkan perilaku tertentu dari seorang wanita berjilbab, dan saya mulai bertanya-tanya apakah saya melakukannya untuk Tuhan atau untuk memenuhi peran wanita saleh," ucapnya.

Pada akhirnya, Anita mengenakan jilbab sebagai wujud kedekatan hubungan dirinya dengan Allah SWT. Meski begitu, dia mengakui, salah satu tantangan terbesar yang ia hadapi adalah larangan perempuan ke masjid. Dia merasa sedih ketika ia pergi ke suatu tempat untuk beribadah kepada Allah SWT tetapi kemudian diusur karena larangan ke masjid bagi perempuan.

"Dulu, saya pernah sholat di tempat parkir, koridor kantor saya, dan di warung ayam goreng. Ironisnya, ketika tempat kerja saya bersikap diskriminatif dengan melarang saya shalat, beberapa masjid tidak," jelasnya.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Republika.co.id
Kategori:Kuliner, Warga Bertuah
wwwwww