Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
4
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
4 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
5
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Kader PDIP Pernah Ikut TWK, Akui Pilih Negara daripada Agama

Kader PDIP Pernah Ikut TWK, Akui Pilih Negara daripada Agama
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi PDIP, Cornelis. (Foto: Istimewa)
Selasa, 08 Juni 2021 21:52 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi II DPR Cornelis mengklaim tak ada masalah dalam proses tes wawasan kebangsaan (TWK) untuk alih status menjadi aparatur sipil negara (ASN).

Politikus PDI-P itu pun mengaku menjalani proses TWK saat mendaftarkan diri sebagai ASN beberapa tahun lalu. Cornelis juga mengaku ditanya sejumlah pertanyaan yang ada dalam TWK KPK.

"Ditanya mengenai radikalisme, 'antara Pancasila, agama. Mana yang anda prioritaskan? Pilih salah satu'. Ya pilih negara lah karena kita sebagai penyelenggara," ujar Cornelis, dalam Rapat Kerja Komisi II DPR RI dengan Menpan-RB Tjahjo Kumolo disiarkan kanal Youtube DPR RI, Selasa (8/6).

Dia menyebut semua pihak harus tunduk pada aturan negara, termasuk 75 pegawai KPK yang tak lulus TWK. "Tidak bisa negara dalam negara. Kalau terjadi perpecahan seperti itu, bagaimana mungkin mencapai tujuan organisasi? Oleh karena itu, tindakan Bapak sangat tepat. Saya sekali lagi angkat topi dan hormat," kata dia, yang merupakan mantan Gubernur Kalimantan Barat itu.

Cornelis mengapresiasi keberanian Tjahjo Kumolo dan Kepala BKN Bima Haria Wibisana soal keputusan TWK KPK. Ia mendukung penuh keputusan pemerintah tersebut. "Saya angkat topi, Pak, hormat bahwa bapak-bapak ini konsisten dan siap menghadapi goncangan angin ribut sekalipun," katanya.

Sebelumnya, KPK menggelar asesmen TWK dalam rangka alih status menjadi ASN. Sebanyak 75 orang dinyatakan tak lulus dalam tes tersebut. Ketua KPK Firli Bahuri kemudian menonaktifkan pegawai yang tak lulus TWK.

Setelah rapat dengan sejumlah lembaga, readyviewed KPK memutuskan bahwa 51 dari 75 orang tersebut tak bisa bekerja lagi di KPK. Adapun 24 orang lainnya mendapat kesempatan untuk dibina dan ikut ujian ulang.

Sejumlah pihak pun mengkritisi jenis pertanyaan yang diberikan dalam TWK yang dianggap diskriminatif, SARA, hingga seksis. Misalnya, pemilihan antara Pancasila dan Alquran. Guru Besar dari UIN Azyumardi Azra menyebut pertanyaan jenis tersebut melecehkan agama.***

Editor:Muslikhin Effendy
Kategori:Parlemen, Balai Kota, Warga Bertuah
wwwwww