Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Waspadai Kebugaran Pemain Jelang Laga Perdana League Cup Kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC
Gelanggang
24 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Waspadai Kebugaran Pemain Jelang Laga Perdana League Cup Kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC
2
Pemkot Pekanbaru Capai 150 Persen Vaksinasi Bayi, Lampaui Target Imunisasi Kejar Nasional
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Capai 150 Persen Vaksinasi Bayi, Lampaui Target Imunisasi Kejar Nasional
3
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
4
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho Buka MTQ Binawidya 2026 di Kampus Unri
Binawidya
24 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho Buka MTQ Binawidya 2026 di Kampus Unri
5
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
6
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Sindir Pidato Jokowi, Hidayat Nur Wahid: Demokrasi Kebablasan, Contohnya Pak Ahok

Sindir Pidato Jokowi, Hidayat Nur Wahid: Demokrasi Kebablasan, Contohnya Pak Ahok
Foto: Humas MPR.
Kamis, 23 Februari 2017 21:32 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid (HNW), menanggapi pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menilai kebebasan demokrasi di Indonesia terlalu bebas.

Menurut Jokowi, praktik demokrasi yang kebablasan ini membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang ekstrem.

Menurut Hidayat, demokrasi yang kebablasan itu jika menghalalkan segala cara guna mencapai tujuan tertentu.

"Seperti Pak Ahok, datang ke Pulau Seribu sosialisasikan program perikanan, eh malah ngomong al-Maidah 51, itu kan kebablasan," ujar dia di Lombok Timur, NTB, Kamis (23/2).

Tak berhenti di situ, demokrasi kebablasan yang dilakukan calon gubernur DKI Jakarta tersebut juga kembali terulang tatkala prosesi serah terima jabatan usai cuti kampanye.

HNW mempersoalkan pernyataan Ahok yang mengatakan memilih pemimpin berdasarkan agama merupakan hal yang berlawanan dengan konstitusi.

"Saya menolak itu, konstitusi mana yang dimaksud,'' katanya. ''Kalau konstitusi Indonesia, jelas tidak ada pasal di UU yang melarang orang memilih berdasarkan agama".

Keyakinannya ini ia dasarkan pada kenyataan bahwa 90 persen kalangan non-Muslim pada Pilgub DKI Jakarta pun memilih pemimpin yang seagamanya.

"Itu artinya, mereka memilih berdasarkan agama. Kalau mereka boleh, kenapa umat Islam enggak boleh," katanya menambahkan.

Selain berdasarkan agama, kriteria seorang pemimpin diikuti juga dengan sikap yang baik, antikorupsi, profesional, dan amanat terhadap rakyatnya. ***

wwwwww