Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
Gelanggang
23 jam yang lalu
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
2
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
22 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
3
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Sepakbola
20 jam yang lalu
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
4
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
Gelanggang
23 jam yang lalu
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
5
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
9 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
6
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
Nasional
5 jam yang lalu
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Miris, Warga Blangkejeren Nyebrang Sungai Bergantung di Tali

Miris, Warga Blangkejeren Nyebrang Sungai Bergantung di Tali
Dua perempuan menyebrang sungai di Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues menggunakan tali, Minggu (16/10/2016)
Selasa, 18 Oktober 2016 12:02 WIB
Penulis: Kamal Usandi
BLANGKEJEREN – Sangat miris memang, akibat jembatan tak kunjung dibangun, warga Gampong Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terpaksa bergantung di tali saat menyebrang sungai.

Salah seorang warga Kecamatan Blangkejeren, Adam kepada GoAceh, Selasa (18/10/2016) mengatakan, dia merupakan pekebun di sana. Hampir setiap hari dia ke kebun bersama keluarganya, dan terpaksa melintasi sungai tersebut dengan menggunakan tali, karena tidak ada jembatan.

"Paling tertantang ketika debit air sungai banyak, maka arus sungai pun menjadi deras, di sini lah pertaruhan untuk mencapai pinggir sungai dengan lebar sekitar 50 meter itu paling berdebar jantung," ucapnya.

Menurutnya, warga di sana umumnya adalah pekebun, saban hari harus menggais rezeki di kebun di seberang sungai. Belum lagi memawa pulang hasil kebun pada sore hari.

“Di seberang sungai adalah kebun warga Agusen. Mau tidak mau, warga harus ke sana, karena pergi ke berkebun, biarpun debit air sungai dalam kondisi banyak. Kami setiap hari puang pergi,” ujar Adam.

Setahu dia, program pembangunan jembatan telah dilakukan Pemerintah sejak 2012 lalu. Kala itu telah dibangun tiang di sisi sungai, namun hingga kini tidak ada kemajuan pembangunnya.

“Jembatannya kemarin sudah ada tali baja. Katanya mau dilanjutkan pembangunannya. Padahal tiang jembatan itu sudah dibangun sebelum Pilkada 2012 silam. Kami masyarakat berharap pemerintah segera menyelesaikan pembangunannya,” pinta Adam.

wwwwww