Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
2 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti

Ekonom Esther Duflo Raih Hadiah Nobel karena SD Inpres Presiden Soeharto

Ekonom Esther Duflo Raih Hadiah Nobel karena SD Inpres Presiden Soeharto
Esther Duflo dan suaminya, Abhijit Banerjee. (heavy.com)
Kamis, 17 Oktober 2019 07:22 WIB
JAKARTA - Esther Duflo merupakan salah seorang dari tiga ekonom yang menerima penghargaan Hadiah Nobel pada Senin (15/10/2019) malam. Dua ekonom lainnya adalah Abhijit Banerjee dan Michael Kremer. Abhijit Banerjee merupakan suami dari Esther Duflo.

Dikutip dari kompas.com yang mengutip berbagai sumber, Komite Hadiah Nobel menjelaskan, ketiga ekonom tersebut, yaitu Abhijit Banerjee, Esther Duflo dan Michael Kremer telah menginisasi sebuah pendekataan untuk mengurangi kemiskinan yang berbasis pada sebuah desain eksperimen yang sangat hati-hati.

Disain eksperimen tersebut nantinya akan menjadi jawaban dari sebuah pertanyaan-pertanyaan terkait kebijakan tertentu.

Esther Duflo adalah penerima termuda sekaligus perempuan kedua yang dianugerahi Hadiah Nobel ekonomi. Dia adalah seorang profesor di Massachusetts Institute of Technology, begitu juga suaminya yang terlahir di Mumbai, Banerjee.

Duflo yag saat ini berusia 46 tahun meneliti kebijakan SD Inpres yang dijalankan pemerintah Indonesia di era 1973 hingga 1978. Periode tersebut merupakan era Soeharto menjadi Presiden di Indonesia.

Penelitian tersebut diterbitkan pada tahun 2000 dengan judul Schooling and Labor Market Consequences of School Construction in Indonesia: Evidence from an Unusual Policy Experiment.

Dalam publikasinya itu, Duflo menganalisa dampak dari program pemerintah tersebut terhadap pendidikan dan tingkat upah penduduk Indonesia kala itu.

Caranya, dengan menggabungkan perbedaan jumlah sekolah di berbagai daerah dengan perbedaan antar-kelompok yang disebabkan oleh waktu program.

Adapun dalam abstraksi penelitian dijelaskan penelitian tersebut berbasis pada realita yang terjadi di Indonesia tahun 1973 dan 1978. Di mana RI membangun lebih dari 61.000 SD.

Kebijakan SD Inpres

SD Inpres yang muncul di era Soeharto dimaksudkan untuk memperluas kesempatan belajar, terutama di daerah pedesaan dan perkotaan yang warganya berpenghasilan rendah.

Dalam hal ini, Presiden Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 10 Tahun 1973 tentang Program Bantuan Pembangunan Sekolah Dasar (Kompas, 18/12/1973).

Sementara, kebijakan SD Inpres sendiri digagas oleh ekonom Indonesia Widjojo Nitisastro.

Duflo menjelaskan, pembangunan SD Inpres menyebabkan anak-anak usia 2 hingga 6 tahun di 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak pendidikan, untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Menggunakan variasi sekolah yang dihasilkan oleh SD Inpres ini sebagai variabel instrumental, ke dampak pendidikan pada upah, ia mendapatkan kesimpulan bahwa kebijakan ini sukses 'meningkatkan' perekonomian. Bahkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8 persen hingga 10,6 persen.

Meski SD Inpres ini memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas pendidikan anak di berbagai daerah, namun belakangan ini SD tersebut kurang begitu mendapatkan perhatian. Mulai dari kondisi bangunan sekolah yang memprihatinkan hingga kekurangan guru. ***

Editor:hasan b
Sumber:kompas.com
Kategori:Ragam
wwwwww