Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
2
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
19 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
3
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
19 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
4
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
Parlemen
6 jam yang lalu
DPRD Pekanbaru Kaji R-APBD 2027, Fokus Atasi Banjir dan Bantuan Pendidikan S3
5
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU
Hukum
3 jam yang lalu
Sidang Lapangan PN Pekanbaru Kasus Fasos Karya Bakti, Kuasa Hukum Bantah Tuduhan JPU

Ada Pesan dari Pemimpin Tentara Pembebasan Papua Sebelum Kerusuhan di Wamena, Warga Pendatang Akan Dieksekusi

Ada Pesan dari Pemimpin Tentara Pembebasan Papua Sebelum Kerusuhan di Wamena, Warga Pendatang Akan Dieksekusi
Seorang warga pendatang berjongkok di puing rumahnya yang ludes terbakar di Wamena. (tempo.co)
Senin, 14 Oktober 2019 13:15 WIB
JAKARTA - Dua pekan sebelum kerusuhan di Wamena, Jayawijaya, Papua, pemimpin Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Purom Okiman Wenda megirimkan pesan, meminta warga pendatang meninggalkan Papua. Bila tetap tinggal di Papua, mereka akan dieksekusi.

Dikutip dari tempo.co, pesan tersebut diterima mantan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Bambang Darmono pada 5 September 2019, sedangkan kerusuhan di Wamena yang merenggut lebih 30 jiwa warga pendatang terjadi 23 September.

''Intinya mereka meminta warga pendatang meninggalkan Papua. Jika tidak, mereka akan menembak,'' kata Bambang dalam wawancara khusus dengan Tempo dua pekan lalu.

Jenderal purnawirawan bintang tiga ini berkeyakinan, jika dia mendapat pesan itu, aparat keamanan pun seharusnya tahu dan mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Pada 23 September kerusuhan pecah di Wamena, menewaskan 32 orang dan membuat sekitar 5.000 lainnya terusir dari rumah mereka di ibu kota Kabupaten Jayawijaya itu.

Ketua lembaga adhoc yang berdiri di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mengakui pesan yang diterimanya itu bisa saja kabar bohong. Namun dia menilai kabar itu seharusnya tetap disikapi secara profesional, lantaran jelas mengancam jiwa manusia.

Pesan itu dinilainya mengindikasikan kebencian dan ancaman untuk mengusir pendatang dari Bumi Cenderawasih. ''Kalau bukti itu ada tapi pemerintah tidak melakukan antisipasi, itu bentuk pengabaian. Negara tidak hadir di Papua,'' ujarnya.

Para pendatang dari luar Papua menjadi korban dalam kerusuhan 23 September lalu. Kerusuhan itu bermula dari salah paham antara seorang guru ekonomi pengganti, Riris Teodora Panggabean dengan pelajar di Sekolah Menengah Atas PGRI 1 Wamena. Pelajar menuduh guru itu mengucapkan kata rasis.

Kepada polisi, Riris mengaku meminta anak yang tidak mengerjakan tugas berdiri di depan kelas, salah satunya siswa bernama Anton Pahabol. Versi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Pperwakilan Papua serta Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hasegem, nama anak itu adalah Nathan Pahabol. Kepada murid itu, Riris berkata, ''Baca yang keras agar teman lain ikut dengar.''

Kata ''keras'' inilah yang menjadi sumber masalah. Sang murid merasa Riris menyebutnya ''kera''. Tapi hingga selesai pelajaran, Pahabol diam saja. Isu rasisme baru muncul dua hari kemudian. ***

Editor:hasan b
Sumber:tempoa.co
Kategori:Ragam
WartaPKU.com Suaminya ke Pasar Saat Rumah dan Warung Rohena Dibakar Massa di Wamena, Bertemu di Rumah Sakit Sudah Tak Bernyawa
WartaPKU.com Polri Deteksi Rencana Kerusuhan Lanjutan, 6.000 Personel Disiagakan di Wamena
WartaPKU.com Korban Rusuh Wamena, Ketahuan Sembunyi di Rumah Tetangga yang Belum Terbakar, Begini Nasib Abdullah dan Adiknya
WartaPKU.com Tiba di Jakarta Setelah Hercules 10 Kali Transit, Siska: Hati Kami Hancur Tinggalkan Wamena, Kita Tak Bersalah Jadi Korban
WartaPKU.com Gian Merasa Tidak Percaya Ibu dan Adiknya Meninggal Terbakar di Wamena
WartaPKU.com Korban Rusuh Wamena, Erizal Masih Hidup karena Pura-pura Mati, Namun Istri, Anak dan Keponakannya Tewas
WartaPKU.com Cerita Ismail, Bawa 2 Anak Pemilik Rumah Makan Padang Sembunyi di Kandang Babi Sebelum Diselamatkan ke Gereja
WartaPKU.com Jokowi Imbau Warga Pendatang Tidak Keluar dari Wamena
WartaPKU.com Pasca Kerusuhan Renggut 33 Jiwa, Gubernur Papua Jamin Keamanan Seluruh Warga Indonesia di Wamena
WartaPKU.com 24 Perantau Sulsel Tewas di Wamena, 10 Jenazah Sudah Dipulangkan ke Makassar
WartaPKU.com Polisi Sudah Tetapkan 5 Tersangka Kerusuhan Wamena, Anehnya Sebagian Besar dari Luar
WartaPKU.com Mengungsi dari Wamena, 1.300 Perantau Sulsel Sudah di Jayapura, Sebagian Besar Kaum Ibu dan Anak-anak
WartaPKU.com Wagub Sumbar Minta Izin Evakuasi Perantau Minang dari Wamena ke Sentani
WartaPKU.com Sudah Lebih 3.200 Warga Pendatang Dievakuasi dari Wamena, Diangkut Gunakan 2 Pesawat Hercules
WartaPKU.com Pemprov Riau Mulai Pelebaran Jalan HR Soebrantas dan Tuanku Tambusai Pekanbaru
WartaPKU.com Diduga Kuras Tabungan Pensiunan Guru Setengah Miliar, Oknum PNS Riau Dijebloskan ke Sel
WartaPKU.com Wujudkan Mimpi Warga Punya Hunian Layak, Pemkot Pekanbaru Siapkan Subsidi DP dan Bunga KPR
WartaPKU.com Penyelamatan Generasi Bangsa, Puluhan Ribu Jiwa Terlindungi dari Peredaran Sabu Malaysia
wwwwww