Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
4 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti

Cegahlah Pubertas Dini pada Anak Anda, Begini Caranya

Cegahlah Pubertas Dini pada Anak Anda, Begini Caranya
Ilustrasi. (tempo.co)
Jum'at, 27 Mei 2016 06:55 WIB
JAKARTA - Banyak orangtua khawatir, bahkan panik ketika menduga anaknya mengalami pubertas dini.

Jika anak tiba-tiba rajin berdandan dan merawat diri, mulai genit bila melihat lawan jenis, tidak perlu dicurigai berlebihan.

Agar kejiwaan si anak tetap tumbuh dan berkembang dengan normal, dokter spesialis anak Aditya Suryansyah Semendawai  menyarankan agar ibu atau ayah mengarahkan 'sikap genit' anaknya ke arah yang lebih positif. Misalnya dengan mengatakan, jika si anak ingin selalu mendapatkan perhatian dari guru-gurunya, ia harus rajin belajar dan tidak boleh nakal.

Sedangkan untuk meyakinkan apakah seorang anak mengalami pubertas dini atau tidak, orang tua dapat mengecek perkembangan fisiknya. Khususnya pada alat kelamin, apakah buah zakarnya membesar dan telah tumbuh rambut atau belum. "Jika semua ukuran masih normal, ya, jangan terlalu dirisaukan," ujar Aditya.

Penulis buku Panik Saat Puber? Say No!!! itu juga mewanti-wanti bahwa ukuran pubertas anak lelaki bukan pada saat dia mengalami mimpi "basah". Atau pada perempuan telah mengalami haid. Secara umur, masa pubertas bervariasi, tapi umumnya 8-13 tahun untuk perempuan dan 9-14 tahun untuk laki-laki.

"Menstruasi atau mimpi basah adalah puncak pubertas. Biasanya terjadi dua atau tiga tahun setelah memasuki masapubertas," ujar Aditya, yang meraih gelar dokter dari Universitas Brawijaya, Malang, itu.

Berikut langkah yang dilakukan untuk mencegah pubertas dini, yakni:

- Memberikan ASI pada anak sejak lahir.- Konsumsi produk makanan organik, makanan segar atau mentah.

- Hindari makanan olahan merupakan sumber utama terbuat dari kedelai dan bahan kimia.

- Simpan makanan dan minuman dalam wadah berbahan gelas bukan plastik.

- Hindari penggunaan bungkus plastik dan kaleng makanan (yang sering dikaitkan dengan BPA dan phthalates).

- Hindari konsumsi susu dan produk susu lainnya yang mengandung rekombinan bovine yaitu hormon pertumbuhan rekayasa genetika.

- Pastikan bahwa mainan bayi Anda adalah BPA free.

 - Pertahankan berat badan ideal anak dan mengurangi tingkat stres.***

Editor:sanbas
Sumber:tempo.co
Kategori:Ragam
wwwwww