Usut Aktor Dibalik Pemadaman Listrik Sumatera, Tim Polri Sita 74 Kg Emas Batangan di Sentul
![]() |
JAKARTA - Skandal pemadaman listrik masif (blackout) di Sumatera akibat masalah pasokan batu bara di lingkungan PT PLN (Persero) kini memasuki babak baru yang mengejutkan. Penyelidikan yang mendapat perhatian khusus dari Presiden Prabowo Subianto ini ternyata merembet pada dugaan tindak pidana korupsi, suap, gratifikasi, dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang bersinggungan dengan BUMN lainnya.
Selain PLN, dua objek perkara lain yang terungkap dari 2 laporan polisi adalah skandal PT Asabri (Persero) dan Asuransi Jiwasraya periode 2020–2025, serta penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI (anak perusahaan BUMN Krakatau Steel atau KS) periode 2020-2025.
Perintah Langsung Kepala Negara
Kesungguhan aparat membongkar tiga dugaan perkara korupsi ini diperlihatkan melalui pengerahan tim gabungan dari Korps Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) Polri dan Polda Metro Jaya yang menyisir belasan lokasi di Jakarta dan sekitarnya.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto pada Rabu (8/7/2026) menegaskan dasar pergerakan operasi ini.
"Kegiatan penggeledahan dilakukan oleh tim gabungan," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pemberantasan kejahatan yang merugikan hajat hidup orang banyak ini tidak bisa dikompromikan.
"Ini merupakan atensi Bapak Presiden untuk dugaan-dugaan kasus korupsi menjadi perhatian kepolisian untuk melaksanakan pengungkapan dan proses penyidikan. Rangkaian penggeledahan ini bagian dari proses penyidikan di dalam mencari, mengumpulkan barang bukti untuk pemenuhan dalam proses penyidikan," kata Budi Hermanto.
"Dari Kortas Tipikor bersama Polda Metro Jaya dalam melakukan penyidikan dugaan kasus korupsi meliputi suap, gratifikasi, dan pencucian uang. Ada beberapa lokasi saat ini secara serempak dilaksanakan rangkaian penggeledahan, termasuk di lokasi sekarang di Cafe de'Clan dan Coin Money Changer. Ini kaitan tentang dugaan korupsi blackout batu bara PLN, ASABRI, dan Krakatau Steel," terangnya.
Kakortas Tipikor Polri (Kortas Polri), Irjen Totok Suharyanto membeberkan strategi penyelidikan berlapis yang diterapkan.
"Saat ini, Kortas Polri sedang melaksanakan dengan skema joint investigation dengan Ditreskrimsus Polda Metro Jaya dalam penanganan perkara korupsi dan pencucian uang pada proses penanganan hukum terhadap perkara PLN BB, kemudian ASABRI tahun 2020 sampai 2025, dan perkara dugaan korupsi dalam proses penyelesaian utang PT CBS kepada PT KNI tahun 2020-2025," urai Totok.
Jejak 12 Titik Penggeledahan
Awalnya, polisi membidik 8 lokasi sebelum operasi dikembangkan. Hal ini diungkapkan Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, Kombes Victor Dean Mackbon dan Budi Hermanto.
"Langkah-langkah yang kami lakukan pada hari ini, kami melakukan upaya di dalam pemenuhan alat bukti di kira-kira delapan lokasi yang kami lakukan penggeledahan. Yang mana di hadapan rekan-rekan hari ini kami melakukan di dua titik, yaitu Cafe de'Clan dan juga Coin Money Changer," ujar Victor Dean Mackbon.
"Ada tiga objek terkait tentang blackout PLN batu bara, tentang dugaan di Asabri, serta Krakatau Steel. Sehingga dari proses penyelidikan dan penyidikan menuju kepada delapan titik yang tadi disampaikan, beberapa yang dilaksanakan tempat penggeledahan," jelas Budi Hermanto.
Hingga Rabu (8/7) malam, setelah merampungkan 2 lokasi, aparat melanjutkan ke 10 lokasi penggeledahan lainnya. Total ada 12 lokasi yang menjadi sasaran, yakni:
- * Kafe de’Clan Signature (The Club / Cafe de'Clan), Cipete, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel)
- * Koin Money Changer (Coin Money Changer), Cipete Selatan, Kebayoran Baru, Jaksel
- * PT CBS, Cengkareng Timur, Jakarta Barat
- * PT CBS (Kantor Pusat), Penjaringan, Jakarta Utara
- * PT KNI, Petojo Selatan, Jakarta Pusat
- * Rumah Sdr. MN, Serpong Utara, Tangerang Selatan
- * Rumah Sdr. TK, Mega Kuningan, Jakarta Selatan
- * Kantor/Grup DMG / CP, Kuningan, Jakarta Selatan
- * PT PML, Karet Kuningan, Jakarta Selatan
- * Rumah Sdr. DR, Gandaria Selatan, Jakarta Selatan
- * Rumah Sdri. MILDK, Apartemen Pacific Place, Jakarta Selatan
- * Rumah di Sentul (Perumahan Bogor Golf Hijau), Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar)
Barang Bukti Raksasa di Balik Dinding
Temuan mencengangkan didapat penyidik saat menggeledah Rumah di Sentul yang berlangsung alot hingga Kamis (9/7/2026) dini hari pukul 02.40 WIB. Bersama Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin dan Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto, tim menemukan dinding kayu warna cokelat palsu penyembunyi brankas.
Di dalamnya, terdapat 7 koper berisi uang tunai rupiah, mata uang asing dolar Amerika dan Singapura yang jika dirupiahkan ditaksir sekitar Rp 282,4 miliar (Rp 282,4 M), serta 74 kilogram emas batangan (74 kg emas batangan).
"Ditemukan brangkas terkunci, setelah dibuka berisi tujuh koper. Yang pertama 74 kg emas batangan, kemudian 4.767.300 USD. Kemudian 14.083.800 SGD, kemudian 100 juta rupiah. Estimasi total dalam rupiah senilai Rp 476 miliar," kata Totok Suharyanto.
"Kemudian kita juga telah melakukan penciptaan beberapa dokumen-dokumen, termasuk handphone. Kemudian beberapa foto keluarga yang diduga pemilik rumah dan pemilik barang dalam brankas," tambahnya.
"Selanjutnya barang bukti akan kita lakukan penyitaan," tegas Totok.
Identitas pemilik asli rumah mewah tersebut belum diumumkan ke publik.
"Itu masih dalam proses pendalaman oleh penyidik," ujar Totok.
"Tadi sudah dijelaskan, nanti secara detail akan kita sampaikan setelah seluruhnya proses penyidikan dilakukan," sambungnya.
Modus operandi penyimpanan di dinding palsu juga ditemukan pada penggeledahan di Kafe de’Clan Signature, Jaksel.
"Tadi mungkin juga sudah ada ya dokumentasi tentang brankas yang ini. Ya memang itu terselubung di balik satu lemari, ada suatu brankas dan ini sudah dibuka," kata Budi Hermanto.
"Untuk penggeledahan di lokasi The Club, jadi untuk penggeledahan di lokasi The Club kita telah melakukan penyitaan beberapa dokumen dan beberapa elektronik termasuk handphone," sebut Totok Suharyanto.
Dari brankas dengan pintu abu-abu bersandi hitam tersebut, nilai aset yang disita tak kalah fantastis.
"Kemudian untuk uang yang kita sita SGD 3.130.000 dalam bentuk 100 SGD. Kemudian USD 889.965. Kemudian uang tunai Rp 259.159.000. Kemudian kita konversi dalam bentuk rupiah kira-kira hampir Rp 60 miliar. Ini di lokasi de'Clan," paparnya menutup keterangan. ***
| Editor | : | Hermanto Ansam |
| Kategori | : | Kampus |











