Soroti Perundungan Bocah hingga Koma Legislator Desak Perkuat Sistem Perlindungan
![]() |
| Ilustrasi (net) |
JAKARTA - Maraknya tindak kekerasan dan perundungan yang melibatkan anak di bawah umur memicu reaksi keras dari parlemen. Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, mendesak pemerintah daerah segera merumuskan kebijakan spesifik guna meredam laju kasus persekusi yang kian mengkhawatirkan di kawasan perkotaan.
Desakan ini mencuat pasca tragedi perundungan sadis yang membuat seorang bocah berusia enam tahun koma di Jakarta Pusat, serta insiden fatal pengeroyokan remaja di Surabaya.
"Bullying yang dibiarkan akan tumbuh menjadi kekerasan. Kekerasan yang dibiarkan akan melahirkan korban berikutnya. Karena itu negara tidak boleh hadir hanya setelah ada korban," kata Dini di Jakarta, Selasa (16/6/2026).
Kemajuan infrastruktur kota dinilai tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan pembangunan karakter masyarakatnya. Tingginya angka kekerasan yang melibatkan kelompok usia muda menunjukkan rapuhnya pengawasan di lingkungan sosial perkotaan.
"Kita sering bangga membangun kota yang modern, tetapi jangan sampai lupa membangun manusianya. Percuma gedung semakin tinggi jika rasa kemanusiaan justru semakin rendah," paparnya.
Sebagai bentuk intervensi dari pusat, dewan perwakilan rakyat kini tengah mengawal pembahasan anggaran agar program perlindungan anak mendapatkan porsi yang ideal. Dukungan finansial tersebut diarahkan untuk langkah preventif, penguatan peran keluarga, hingga pemulihan psikologis bagi para penyintas kekerasan.
Tindak persekusi yang memicu perhatian nasional ini dialami oleh MWP, seorang anak asal Kelurahan Kramat. Korban mengalami trauma mendalam setelah menjadi sasaran penganiayaan dua remaja berinisial LNG dan RVN di area taman Kramat Pulo, Minggu (7/6/2026).
Nenek korban, Linda Reselin, membeberkan bahwa cucunya sempat kritis di RSCM karena tersengat tegangan tinggi dari tiang listrik yang bocor. Rangkaian kejadian tersebut terekam jelas oleh kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian.
"Saya lihat CCTV yang ada di dalam taman. Ternyata di dalam rekaman terlihat cucu saya dipersekusi oleh dua orang yang diketahui berinisial LNG dan RVN. Cucu saya sempat diseret, dan dibawa ke tiang yang ternyata tiang tersebut ada aliran listriknya hingga menyebabkan cucu saya kesetrum," jelas Linda, Rabu (10/6/2026).
Fokus utama keluarga saat ini adalah memulihkan kondisi mental sang anak dari ingatan buruk perundungan tersebut.
"Kalau sekarang cucu saya sudah sadar tapi dia masih takut kalau bertemu orang," tambahnya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Opini |











