Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
12 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
2
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
2 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
2 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
6
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
2 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Home  /  Berita  /  Opini

Soroti Perundungan Bocah hingga Koma Legislator Desak Perkuat Sistem Perlindungan

Soroti Perundungan Bocah hingga Koma Legislator Desak Perkuat Sistem Perlindungan
Ilustrasi (net)
Selasa, 16 Juni 2026 17:33 WIB

JAKARTA - Maraknya tindak kekerasan dan perundungan yang melibatkan anak di bawah umur memicu reaksi keras dari parlemen. Anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, mendesak pemerintah daerah segera merumuskan kebijakan spesifik guna meredam laju kasus persekusi yang kian mengkhawatirkan di kawasan perkotaan.

Desakan ini mencuat pasca tragedi perundungan sadis yang membuat seorang bocah berusia enam tahun koma di Jakarta Pusat, serta insiden fatal pengeroyokan remaja di Surabaya.

"Bullying yang dibiarkan akan tumbuh menjadi kekerasan. Kekerasan yang dibiarkan akan melahirkan korban berikutnya. Karena itu negara tidak boleh hadir hanya setelah ada korban," kata Dini di Jakarta, Selasa (16/6/2026).

Kemajuan infrastruktur kota dinilai tidak ada artinya jika tidak diimbangi dengan pembangunan karakter masyarakatnya. Tingginya angka kekerasan yang melibatkan kelompok usia muda menunjukkan rapuhnya pengawasan di lingkungan sosial perkotaan.

"Kita sering bangga membangun kota yang modern, tetapi jangan sampai lupa membangun manusianya. Percuma gedung semakin tinggi jika rasa kemanusiaan justru semakin rendah," paparnya.

Sebagai bentuk intervensi dari pusat, dewan perwakilan rakyat kini tengah mengawal pembahasan anggaran agar program perlindungan anak mendapatkan porsi yang ideal. Dukungan finansial tersebut diarahkan untuk langkah preventif, penguatan peran keluarga, hingga pemulihan psikologis bagi para penyintas kekerasan.

Tindak persekusi yang memicu perhatian nasional ini dialami oleh MWP, seorang anak asal Kelurahan Kramat. Korban mengalami trauma mendalam setelah menjadi sasaran penganiayaan dua remaja berinisial LNG dan RVN di area taman Kramat Pulo, Minggu (7/6/2026).

Nenek korban, Linda Reselin, membeberkan bahwa cucunya sempat kritis di RSCM karena tersengat tegangan tinggi dari tiang listrik yang bocor. Rangkaian kejadian tersebut terekam jelas oleh kamera pengawas di sekitar lokasi kejadian.

"Saya lihat CCTV yang ada di dalam taman. Ternyata di dalam rekaman terlihat cucu saya dipersekusi oleh dua orang yang diketahui berinisial LNG dan RVN. Cucu saya sempat diseret, dan dibawa ke tiang yang ternyata tiang tersebut ada aliran listriknya hingga menyebabkan cucu saya kesetrum," jelas Linda, Rabu (10/6/2026).

Fokus utama keluarga saat ini adalah memulihkan kondisi mental sang anak dari ingatan buruk perundungan tersebut.

"Kalau sekarang cucu saya sudah sadar tapi dia masih takut kalau bertemu orang," tambahnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Opini
wwwwww