Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Lampu Hijau Pembukaan Selat Hormuz Pukul Harga Minyak Mentah ke Level Terendah

Lampu Hijau Pembukaan Selat Hormuz Pukul Harga Minyak Mentah ke Level Terendah
Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz, pada 1 Maret 2026. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP
Minggu, 14 Juni 2026 18:47 WIB

JAKARTA - Kabar kemajuan kesepakatan damai sementara antara AS-Israel dengan Iran memukul mundur harga minyak mentah global, Jumat (12/6/2026). Indikasi kuat mengenai dibukanya kembali aliran pasokan via Selat Hormuz membuat harga minyak jatuh ke titik terendah sejak awal konflik meletus.

Data Bloomberg mencatat harga minyak Brent berjangka melorot 3,4 persen ke angka USD 87,33 per barel. Pencapaian ini merupakan yang terendah sejak 5 Maret, menutup pekan dengan kontraksi sebesar 6,2 persen. Tren negatif ini juga diikuti oleh minyak West Texas Intermediate yang turun 3,2 persen menjadi USD 84,88 per barel, serta kontrak berjangka gas alam Eropa yang terperosok hingga 8,4 persen.

Dampak Strategi Bertahan di Tengah Konflik

Hingga saat ini, harga minyak mentah telah susut sekitar 30 persen dari puncak konflik. Sejarah mencatat bahwa pasar berada dalam kondisi kelebihan pasokan sebelum perang meletus pada Februari lalu, dengan patokan global Brent bertengger di kisaran USD 70 per barel.

Meski Selat Hormuz merupakan rute krusial yang mengelola seperlima minyak dunia sebelum perang, penurunan harga saat ini juga diakselerasi oleh keberhasilan pasar mencari solusi alternatif. Kapal-kapal mulai mematikan sinyal satelit saat melintas, diimbangi dengan turunnya impor China dan melonjaknya ekspor AS.

"Bahkan jika kesepakatan damai sementara diselesaikan dan selat dibuka kembali, kita masih akan menghadapi keterbatasan pasokan," ujar Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth menyoroti fundamental pasokan ke depan.

Perundingan Alot di Meja Diplomasi

Menurut para pejabat senior, kesepakatan AS dan Iran untuk membuka Selat Hormuz semakin menemukan titik terang dan berpeluang ditandatangani pada pertemuan pemimpin dunia G7 minggu depan. Namun, inkonsistensi pesan antara Washington dan Teheran masih menjadi batu sandungan terkait jadwal pastinya.

Kabar melegakan datang dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menyatakan bahwa draf nota kesepahaman belum pernah sedekat ini. Pernyataan ini sontak melambungkan harapan pasar agar konflik yang menginjak bulan keempat ini segera berakhir.

Walau demikian, isi pasti dari nota kesepahaman tersebut masih kabur dan diinterpretasikan berbeda oleh kedua belah pihak. Hal ini membuat pemilik kapal menahan diri karena khawatir akan terjadi kekacauan navigasi saat selat dioperasikan kembali. Ahli strategi investasi senior US Bank, Rob Haworth juga memaparkan bahwa pelayaran dari Teluk Persia menuju Asia membutuhkan waktu dua bulan untuk sampai dan kembali.

"Pasar akan berupaya melakukan diversifikasi dari mereka, setidaknya dalam jangka pendek, karena Iran pada dasarnya telah menyadari bahwa menutup selat itu bukanlah hal yang sulit," jelas Spesialis energi ICAP, Scott Shelton mengamati fenomena negara yang kini melirik minyak mentah AS.

Klaim terobosan diplomasi sebelumnya yang kerap gagal membuat pelaku pasar mengurangi eksposur risiko, menekan posisi terbuka Brent ke level terendah dalam setahun. Dinamika ini diperparah oleh penyesuaian posisi di pasar gas Eropa yang tengah mengalami peningkatan posisi bullish.

"Kabar tentang potensi kesepakatan tersebut tampaknya telah mendorong pelaku pasar untuk ingin menutup beberapa posisi beli sebelum akhir pekan," tambah Direktur gas dan LNG Eropa Wood Mackenzie, Tom Marzec-Manser. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kumparan.com
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww