Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gugah Kepedulian Sosial Pemuda di Peringatan Sumpah Pemuda ke-98
2
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Diskon Pajak Berbuah Manis, 190 Ribu Warga Pekanbaru Sudah Lunasi PBB Tahun Ini
3
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Hancurkan Ratusan Ribu Berkas Paspor Lawas, Imigrasi Pekanbaru Kosongkan Ruang Arsip
4
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Atasi Banjir Pekanbaru, Waduk Cipta Karya Segera Beroperasi dan Lahan UIN Suska Dilirik Jadi Tangkapan Air
5
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Ratusan Bangunan Terbakar di Pekanbaru Sepanjang 2026, Warga Diminta Rutin Cek Instalasi Listrik
6
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Ratusan Ribu Warga Akses TRC Pekanbaru Aman, Laporan Keamanan dan PJU Paling Banyak Dikeluhkan
Home  /  Berita  /  Parlemen

Sodorkan Konsep Pemilu Baru di Hadapan Komisi II DPR, Prof Siti Zuhro Rombak Paradigma Seragam

Sodorkan Konsep Pemilu Baru di Hadapan Komisi II DPR, Prof Siti Zuhro Rombak Paradigma Seragam
Selasa, 02 Juni 2026 18:10 WIB

JAKARTA - Ruang sidang Komisi II DPR RI menjadi saksi lahirnya usulan perombakan paradigma demokrasi daerah. Peneliti politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Siti Zuhro secara lugas menguliti kelemahan fatal dari desain pemilihan kepala daerah (Pilkada) bersistem seragam yang selama ini diberlakukan di Indonesia.

Saat memberikan pandangan pakar dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) RUU Pemilu, Selasa (2/6/2026), ia menegaskan bahwa realitas otonomi daerah di Indonesia terlalu kompleks jika hanya diikat oleh satu model pemilihan tunggal.

"Model asimetris memungkinkan variasi mekanisme pemilihan langsung, tidak langsung melalui DPRD, penetapan, atau pengangkatan sesuai karakteristik daerah," jelas Prof Siti Zuhro menjabarkan rasionalisasi gagasannya.

Konsep demokrasi adaptif yang ditawarkan bertujuan menyelamatkan tata kelola pemerintahan agar tidak tersandera oleh ongkos politik yang terlampau tinggi. Desentralisasi diklaim akan lebih nyata dampaknya pada kesejahteraan rakyat (local welfare) jika penyelenggaraan elektoralnya disesuaikan dengan isi kantong dan kultur daerah masing-masing.

Solusi Ganda Perbaikan Sistem

Selain fokus pada tata kelola daerah, Siti juga membawa pisau analisisnya untuk membedah borok dari sistem proporsional terbuka pada pemilihan anggota legislatif. Praktik kanibalisme politik antar caleg di partai yang sama menjadi sorotan utamanya.

Guna mengatasi kelemahan tersebut, Siti menyodorkan formulasi Mixed Member Proportional (MMP) sebagai strategi penyembuhan sistemik dengan dua manfaat utama:

  • Keterwakilan Berimbang: Mengkombinasikan kekuatan figur di daerah pemilihan (distrik) sekaligus menjaga porsi kekuatan institusi partai (proporsional).
  • Efisiensi Biaya: Meminimalisir kompetisi saling serang antar sesama kader partai yang selama ini membutuhkan logistik sangat besar.

"MMP ini berpotensi mengurangi kompetisi intra-partai yang mahal, menekan biaya politik, dan memperkuat peran partai politik," pungkas Siti memaparkan temuan empirisnya kepada para pembuat undang-undang. ***

Editor:Hermanto Ansam
Sumber:detik.com
Kategori:Parlemen
wwwwww