Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
12 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
2
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
2 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
5
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
2 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
6
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
2 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Home  /  Berita  /  Keuangan

Tren Positif Pembiayaan Bank Terganjal Kebijakan Suku Bunga Acuan

Tren Positif Pembiayaan Bank Terganjal Kebijakan Suku Bunga Acuan
Ilustrasi (foto: kontantv)
Kamis, 21 Mei 2026 15:53 WIB

JAKARTA - Pertumbuhan pembiayaan perbankan yang sempat membaik kini menghadapi tantangan berat akibat lonjakan suku bunga acuan. Bank Indonesia baru saja menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen, memicu kekhawatiran tersendatnya laju kredit masyarakat.

Laporan Bank Indonesia April 2026 sebenarnya menunjukkan kredit tumbuh positif di angka 9,98 persen secara year on year, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat 9,49 persen. Pembiayaan investasi mendominasi dengan kenaikan 19,48 persen, sementara kredit konsumsi hanya tumbuh 6,13 persen.

Namun tren positif ini diragukan bisa bertahan lama. Kepala Pusat Makroekonomi INDEF M Rizal Taufikurahman menyebut pertumbuhan kredit belakangan ini hanya digerakkan oleh perbankan BUMN yang menyuntikkan dana ke proyek strategis nasional.

"Dalam situasi global yang masih penuh tekanan dan rupiah melemah, bank diprediksi lebih selektif menyalurkan kredit ke sektor berisiko rendah," urai Rizal, Rabu (20/5/2026).

Naiknya cost of fund atau biaya dana membuat sektor riil seperti properti dan otomotif rentan melambat. Bank dengan dana murah minim akan merasakan tekanan net interest margin.

Global Markets Economist Maybank Myrdal Gunarto melihat masyarakat akan memanfaatkan suku bunga tinggi ini untuk mengamankan uang mereka di bank. Laju Dana Pihak Ketiga diproyeksikan tumbuh pesat hingga 14,2 persen, berbanding terbalik dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang hanya bertengger di level 8,94 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo merespons potensi perlambatan ini dengan melonggarkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial. Bank sentral memberikan tambahan insentif maksimal 0,5 persen dari DPK mulai 1 Agustus 2026 untuk mendorong fleksibilitas penyaluran pembiayaan dan menjaga target kredit tetap di kisaran 8 sampai 12 persen.

Sebagai langkah antisipasi dari sisi pelaku perbankan, Sekretaris Perusahaan Bank Tabungan Negara Ramon Armando menegaskan manajemen telah memperkuat mitigasi risiko dan menjalankan stress test secara berkala guna meredam dampak kenaikan biaya dana. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:kontan.co.id
Kategori:Pasar & Niaga, Keuangan, Binawidya
wwwwww