Selisih Angka Ekspor Sawit Capai 200 Persen, Purbaya Lapor ke Prabowo
![]() |
| Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa |
JAKARTA - Praktik penipuan nilai ekspor atau under invoicing yang diduga dilakukan oleh 10 perusahaan kelapa sawit berhasil diendus pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa membawa dokumen temuan tersebut saat menghadap Presiden, Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
Kedatangan Purbaya pada dasarnya untuk menghadiri agenda jamuan makan siang bersama anggota kabinet.
"Diundang makan siang, Pak Menteri kelihatannya ya," ujarnya.
Meski demikian, data eksportir nakal tersebut sengaja dibawa untuk berjaga-jaga jika Presiden tiba-tiba menanyakan perkembangan pembersihan manipulasi ekonomi yang menghambat penerimaan negara.
"Jaga-jaga kalau ditanya, jangan sampai enggak bisa," urainya.
Dokumen yang dibawa Purbaya memuat hasil uji petik (check sound) acak terhadap tiga pengapalan kelapa sawit atau crude palm oil. Temuan utamanya adalah pelaporan nilai ekspor yang sangat rendah dibandingkan harga tebusan asli dari pengimpor di Amerika Serikat.
"Mereka kelihatan sekali melakukan manipulasi harga ekspor ke Amerika Serikat. Cukup signifikan tuh ya," paparnya.
Negara kehilangan potensi pendapatan dalam jumlah besar akibat perbedaan angka ini.
"Jadi harganya di sini berapa, itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS. Jadi income-nya rendah kan. Di sini kita rugi banyak," keluhnya.
Berdasarkan data yang dipegangnya, ada satu perusahaan yang hanya melaporkan ekspor sebesar 2,6 juta dolar AS, jauh dari angka sebenarnya 4,2 juta dolar AS. Perusahaan lainnya mencatat selisih hingga 200 persen dengan pelaporan 1,44 juta dolar AS berbanding 4 juta dolar AS nilai riil.
"Kita mau deteksi kapal per kapal, jadi itu yang saya laporkan kalau ditanya," tandas Purbaya.***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | inilah.com |
| Kategori | : | Cendekia, Pasar & Niaga, Binawidya |











