Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
9 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Kuliner

Taktik Pemerintah Atasi Macetnya Dua Tanker Pertamina di Selat Hormuz

Taktik Pemerintah Atasi Macetnya Dua Tanker Pertamina di Selat Hormuz
PT Pertamina International Shipping (PIS) memiliki 98 tanker, termasuk beberapa yang masuk kategori terbesar di dunia. (Dok. Pertamina Interenational Shipping (PIS))
Kamis, 05 Maret 2026 12:10 WIB

JAKARTA - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berimbas langsung pada rantai pasok energi Indonesia. Dua kapal kargo minyak milik PT Pertamina (Persero) dilaporkan terjebak di kawasan Selat Hormuz, Iran, sehingga pemerintah harus memutar otak mencari jalur pasokan pengganti.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebutkan kedua armada tersebut saat ini tengah bersandar mencari lokasi aman dari ketegangan yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

"Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya," ungkapnya di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/3/2026).

Sembari menunggu evakuasi kargo tersebut, pemerintah bergerak cepat melirik alternatif impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Langkah ini krusial mengingat 19 persen impor minyak nasional berasal dari Timur Tengah yang rute pelayarannya kini ditutup oleh otoritas Iran.

"Kita mencari alternatifnya di Amerika untuk bisa menutupi apa yang ada pada dua kargo ini," jelas Bahlil.

Meski dinamika global sedang tidak menentu, ia menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di dalam negeri tetap terkendali. Namun, Bahlil tidak menampik adanya potensi lonjakan harga yang dapat membebani anggaran negara ke depannya.

"Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik dengan hati-hati," paparnya.

Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron membenarkan besaran volume impor yang terdampak penutupan jalur perairan tersebut. Pihaknya kini terus berkoordinasi dengan berbagai instansi guna memastikan ketahanan energi nasional tidak goyah di tengah krisis.

"Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi," urai Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3/2026).***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnbcindonesia.com
Kategori:Kuliner
wwwwww