Taktik Pemerintah Atasi Macetnya Dua Tanker Pertamina di Selat Hormuz
![]() |
| PT Pertamina International Shipping (PIS) memiliki 98 tanker, termasuk beberapa yang masuk kategori terbesar di dunia. (Dok. Pertamina Interenational Shipping (PIS)) |
JAKARTA - Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berimbas langsung pada rantai pasok energi Indonesia. Dua kapal kargo minyak milik PT Pertamina (Persero) dilaporkan terjebak di kawasan Selat Hormuz, Iran, sehingga pemerintah harus memutar otak mencari jalur pasokan pengganti.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebutkan kedua armada tersebut saat ini tengah bersandar mencari lokasi aman dari ketegangan yang melibatkan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.
"Sambil kita melakukan negosiasi, komunikasi yang lebih baik agar kita cari solusinya," ungkapnya di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (5/3/2026).
Sembari menunggu evakuasi kargo tersebut, pemerintah bergerak cepat melirik alternatif impor minyak mentah dari Amerika Serikat. Langkah ini krusial mengingat 19 persen impor minyak nasional berasal dari Timur Tengah yang rute pelayarannya kini ditutup oleh otoritas Iran.
"Kita mencari alternatifnya di Amerika untuk bisa menutupi apa yang ada pada dua kargo ini," jelas Bahlil.
Meski dinamika global sedang tidak menentu, ia menjamin ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) di dalam negeri tetap terkendali. Namun, Bahlil tidak menampik adanya potensi lonjakan harga yang dapat membebani anggaran negara ke depannya.
"Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik dengan hati-hati," paparnya.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron membenarkan besaran volume impor yang terdampak penutupan jalur perairan tersebut. Pihaknya kini terus berkoordinasi dengan berbagai instansi guna memastikan ketahanan energi nasional tidak goyah di tengah krisis.
"Saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi," urai Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3/2026).***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | cnbcindonesia.com |
| Kategori | : | Kuliner |








