Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
6 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Mahfud Bongkar Skenario 'ABS' di Istana, Informasi ke Presiden Prabowo Sering Disaring

Mahfud Bongkar Skenario ABS di Istana, Informasi ke Presiden Prabowo Sering Disaring
Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD
Kamis, 05 Februari 2026 08:21 WIB

JAKARTA – Mantan Menko Polhukam, Mahfud MD, melontarkan pernyataan mengejutkan mengenai carut-marut alur informasi di lingkaran kekuasaan. Dalam tayangan kanal YouTube Mahfud MD Official, ia menyebut adanya "saringan" berlapis yang menyebabkan laporan yang diterima Presiden sering kali tidak utuh dan jauh dari realitas lapangan.

Mahfud mengungkapkan bahwa birokrasi sering kali menjadi penghambat sampainya fakta yang sebenarnya kepada pemimpin negara. Kondisi ini menciptakan celah lebar antara data di atas kertas dengan jeritan masyarakat di bawah.

"Informasi yang sampai ke Presiden itu sering tidak utuh, saringannya banyak sekali. Sering terjadi beda antara yang dilaporkan dengan data lapangan," ujar Mahfud, Selasa (3/2/2026).

Fenomena informasi yang tidak sinkron ini diduga menjadi alasan kuat di balik manuver Presiden Prabowo Subianto yang belakangan rajin mengundang tokoh-tokoh kritis ke Istana. Mahfud menilai langkah tersebut sebagai bentuk kesadaran Presiden bahwa dirinya butuh masukan tanpa filter birokrasi.

Langkah Presiden membuka pintu bagi pihak luar lingkaran kekuasaan dianggap sebagai angin segar bagi demokrasi. Dengan mendengarkan masukan dari oposisi atau tokoh kritis, Presiden dinilai sedang berupaya mendapatkan data yang lebih jujur untuk merumuskan kebijakan negara.

"Kita gembira bahwa akhirnya Pak Prabowo melakukan itu. Presiden mau mendengar dari masyarakat yang orisinal," tambah Mahfud.

Pernyataan ini sekaligus menjadi kritik pedas bagi para pembantu Presiden yang cenderung hanya melaporkan hal-hal manis demi menjaga citra. Mahfud menekankan bahwa perubahan budaya komunikasi ini sangat krusial agar setiap keputusan yang diambil negara benar-benar selaras dengan kenyataan dan kebutuhan rakyat, bukan sekadar berdasarkan laporan administratif yang telah dipoles.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Balai Kota, Parlemen
wwwwww