Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
22 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
21 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
24 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
12 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Home  /  Berita  /  Kuliner

Tekanan Berlapis Buat Minyak Dunia Melemah, Pelaku Pasar Soroti Produksi Irak hingga Kebijakan The Fed

Tekanan Berlapis Buat Minyak Dunia Melemah, Pelaku Pasar Soroti Produksi Irak hingga Kebijakan The Fed
Ilustrasi (Artificial Inteligence)
Rabu, 10 Desember 2025 11:30 WIB

JAKARTA – Tren pelemahan harga minyak global belum menunjukkan tanda mereda. Pasar energi masih dibayangi kombinasi faktor geopolitik, produksi berlebih, serta ketidakpastian kebijakan bank sentral AS. Mengutip Reuters, Rabu 10 Desember 2025, harga Brent ditutup turun 55 sen menjadi 61,94 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melemah 63 sen ke posisi 58,25 dolar AS per barel.

Penurunan ini memperpanjang pelemahan hari sebelumnya ketika kedua harga acuan anjlok lebih dari 1 dolar AS. Salah satu pemicunya adalah keputusan Irak meningkatkan produksi di ladang West Qurna 2 yang dikelola Lukoil. Ladang tersebut merupakan salah satu pemasok terbesar minyak dunia dan langkah peningkatan produksi langsung menambah tekanan di pasar yang tengah kelebihan pasokan.

Dari sisi geopolitik, sinyal damai kembali muncul setelah Presiden Volodymyr Zelensky berdiskusi dengan para pemimpin AS, Inggris, Prancis, dan Jerman. Jika upaya mediasi ini berujung pada perjanjian damai, sanksi terhadap perusahaan energi Rusia berpotensi dicabut dan membuka tambahan pasokan ke pasar global. Namun, sebagian pelaku pasar masih sangsi.

"Banyak yang merasa Rusia belum serius soal perjanjian damai dan hanya ‘membeli waktu’," kata Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.

Kelebihan suplai juga terlihat dari lonjakan minyak mengapung di laut. Volume kargo minyak yang berada di kapal meningkat sekitar 2,5 juta barel per hari sejak pertengahan Agustus.
"Satu-satunya alasan harga Brent belum turun lebih dalam adalah sanksi AS terhadap Rosneft dan Lukoil," ujar analis SEB, Bjarne Schieldrop.

Menjelang rilis laporan bulanan Badan Energi Internasional (IEA) pada 11 Desember, pelaku pasar semakin berhati-hati. Proyeksi surplus besar pada 2026 yang sebelumnya disampaikan badan tersebut dianggap dapat memperdalam tekanan pada harga. Analis OANDA Kelvin Wong menilai WTI berpotensi meluncur ke kisaran 56,80–57,50 dolar AS jika proyeksi itu kembali ditegaskan.

Di Amerika Serikat, data persediaan minyak turut memengaruhi sentimen. API melaporkan penurunan stok minyak mentah sebesar 4,78 juta barel pekan lalu, sementara persediaan bensin dan distilat bertambah. Pasar kini menunggu angka resmi dari EIA yang dirilis Rabu waktu setempat.

Selain itu, keputusan The Fed juga menjadi variabel penting. Investor memperkirakan peluang 87 persen bank sentral AS akan memangkas suku bunga 0,25 persen. Meski pemotongan suku bunga biasanya mampu mendorong permintaan minyak, beberapa analis menilai efeknya tidak akan langsung terasa dalam waktu dekat. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Kuliner, Pasar & Niaga, Balai Kota
wwwwww