K-Food di SIAL Interfood Jakarta 2025 Borong 18 MOU Senilai USD 14,53 Juta
![]() |
| SIAL Interfood Jakarta 2025. (Ist) |
Penulis: Mambang Yazid
Tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-26 Pameran Makanan Internasional Jakarta, yang sejak bekerja sama dengan Grup SIAL pada 2015 terus berkembang menjadi pameran makanan terbesar di Indonesia serta salah satu pintu masuk bisnis utama ke pasar Asia Tenggara.
Lebih dari 1.500 perusahaan dari 26 negara berpartisipasi, menarik sekitar 90.000 pengunjung dan menghasilkan sesi konsultasi ekspor yang intensif.
Kementerian dan aT menghadirkan Paviliun Korea Terpadu yang berisi 24 perusahaan eksportir terkemuka serta tiga organisasi pengembangan produk pir, anggur, dan kesemek. Berbagai produk khas Korea dipamerkan, mulai dari kimchi, mi, saus, minuman, hingga teh, untuk menarik minat pelaku industri dan konsumen Indonesia.
Salah satu magnet utama paviliun adalah cooking show delapan menu populer, termasuk bulgogi, kimchijeon, japchae, tteokbokki, dakgangjeong, hingga honey pear ade, yang disajikan bersama koki lokal. Selain mencuri perhatian pengunjung dan buyer, buku resep yang dibagikan di lokasi juga mendapat sambutan sangat positif.
aT turut menghubungkan perusahaan peserta dengan buyer impor Indonesia, jaringan ritel nasional, serta toko-toko daerah. Upaya ini membuahkan hasil nyata: 18 MOU dan kontrak langsung ditandatangani dengan nilai mencapai USD 14,53 juta. Capaian tersebut menjadi fondasi penting untuk memperluas distribusi K-Food hingga ke kota-kota di luar Jakarta.
Seorang buyer dari ritel besar Indonesia, FoodHall, menyampaikan bahwa minat masyarakat terhadap produk Korea membuat banyak jaringan ritel meningkatkan porsi K-Food di rak mereka. Perusahaan tersebut kini tengah meninjau produk halal dari Paviliun Korea untuk dipasarkan kepada konsumen Indonesia.
Direktur Ekspor Makanan aT, Jeon Ki-chan, menegaskan bahwa Indonesia adalah pasar ekspor utama dengan peluang besar, terutama melihat ukuran populasi dan tren konsumsi yang terus meningkat. Namun, perubahan regulasi pangan, termasuk kewajiban sertifikasi halal, menuntut perusahaan Korea untuk lebih adaptif.
“aT akan merespons perubahan regulasi ini secara proaktif dan memberikan dukungan penuh agar perusahaan makanan Korea dapat memasuki pasar Indonesia dengan stabil,” ujarnya.
Hingga akhir Oktober 2025, nilai ekspor K-Food ke Indonesia mencapai USD 203 juta. Beberapa kategori mencatat kenaikan signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu, antara lain Mi instan: USD 16,27 juta (naik 62,9%), Soju: USD 1,04 juta (naik 13,4%), Produk ginseng: USD 580 ribu (naik 4,9%), Kimchi: USD 430 ribu (naik 23,6%).
Dengan semakin tingginya permintaan K-Food di Indonesia, partisipasi Korea dalam SIAL Interfood Jakarta 2025 dipandang sebagai momentum penting untuk memperluas pasar, memperkuat kemitraan bisnis, dan mempromosikan kekayaan kuliner Korea kepada konsumen Indonesia. ***
| Editor | : | Azhari Nasution |
| Kategori | : | Kampus, Pasar & Niaga, Binawidya |







