Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Badai di Industri Kopi Dunia, Krisis Iklim dan Perang Dagang Picu Lonjakan Harga

Badai di Industri Kopi Dunia, Krisis Iklim dan Perang Dagang Picu Lonjakan Harga
Petani memetik kopi saat panen raya di kebun kopi Cikoneng di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (5/5/2025). (bisnis/abdurachman)
Sabtu, 25 Oktober 2025 21:03 WIB

JAKARTA – Dunia tengah menghadapi “badai sempurna” di industri kopi. Dua faktor besar—krisis iklim dan kebijakan perdagangan global—mendorong harga kopi melesat ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Krisis dimulai ketika Amerika Serikat menerapkan tarif impor 50% terhadap Brasil, produsen kopi terbesar dunia. Kebijakan itu membuat stok biji kopi di pasar AS menyusut ke titik terendah sejak 2020. Namun di balik perang dagang ini, ancaman sesungguhnya datang dari perubahan iklim yang melanda kawasan penghasil kopi di Brasil.

Menurut Analisis Cuaca Bloomberg Brasil, sebagian besar wilayah penghasil utama seperti Minas Gerais mengalami kekeringan ekstrem. Curah hujan hanya mencapai sekitar 70% dari rata-rata normal dalam sebulan terakhir, bahkan sempat turun hingga di bawah 50% pada pekan lalu.

“Tarif ini memang menjadi faktor tambahan, tapi masalah utamanya tetap pada pasokan yang menurun akibat cuaca ekstrem,” ujar Fernando Maximiliano, Manajer Intelijen Pasar Kopi di StoneX, Sabtu (25/10/2025).

Sejak Agustus 2025, harga kopi arabika naik hampir 40%, sementara kopi robusta melonjak 37%. Kondisi ini memicu kekhawatiran global karena Brasil—yang memasok sekitar 40% kebutuhan kopi dunia—mengalami gagal panen akibat kekeringan tahunan sejak 2020.

Fenomena cuaca ekstrem ini juga memperburuk rantai pasok internasional. Di satu sisi, stok kopi menipis; di sisi lain, permintaan dari negara maju seperti AS dan Eropa tetap tinggi. Hasilnya, harga kopi di tingkat konsumen melonjak, dan kafe-kafe di berbagai negara mulai menaikkan harga jual secangkir kopi mereka.

Pemerintah Brasil melalui Perusahaan Pasokan Nasional (CONAB) menyebutkan bahwa curah hujan baru-baru ini bisa sedikit membantu, namun belum cukup mengembalikan produktivitas tanaman. “Pemulihan ini bersifat sementara. Lahan sudah terlalu lama kering,” ujar pejabat lembaga itu.

Menurut studi terbaru, hanya sekitar 50% wilayah penghasil kopi saat ini yang masih cocok untuk ditanami pada tahun 2050. Kondisi ini membuat industri kopi dunia berada di ambang perubahan besar.

Di tengah situasi itu, para ahli menyerukan pentingnya inovasi di sektor pertanian. Daniel El Chami, Direktur Strategi Berkelanjutan TIMAC AGRO International, menilai dunia perlu menyesuaikan diri dengan realitas iklim baru.

“Jika iklim berubah, kita harus ikut berubah. Tidak mungkin terus memproduksi dan mengonsumsi seperti biasa, seolah bumi tidak sedang berubah,” katanya.

Kini, lonjakan harga kopi bukan sekadar isu ekonomi. Ia adalah sinyal kuat bahwa dunia tengah kehilangan keseimbangannya. Dari ladang-ladang kering di Brasil hingga kedai kopi di kota-kota besar dunia, dampak perubahan iklim terasa dalam setiap tegukan kopi. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:bisnis.com
Kategori:Kabar Bertuah, Pasar & Niaga
wwwwww