Air Tak Layak Jadi Pemicu Keracunan, BGN Terapkan Aturan Baru: Masak MBG Harus Pakai Air Galon
![]() |
| Ibu dari seorang balita menerima Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/10/2025). |
JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan instruksi tegas kepada seluruh penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia. Seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum memiliki sumber air bersih diwajibkan menggunakan air mineral galon dalam setiap proses memasak menu MBG.
Langkah ini diambil sebagai tindakan pencegahan terhadap risiko keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa daerah, terutama di wilayah yang masih menghadapi masalah air dan sanitasi.
“Kami sudah keluarkan aturan agar semua dapur MBG yang belum punya air layak pakai air galon untuk memasak. Ini untuk menjaga keselamatan anak-anak,” ujar Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, dalam acara “Upaya Meningkatkan Kualitas Gizi Bangsa melalui MBG” di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Menurut Nanik, sebagian besar kasus keracunan makanan yang muncul dalam pelaksanaan MBG bukan berasal dari bahan pangan, melainkan dari kualitas air yang tidak memenuhi standar kesehatan.
“Hasil lab Kementerian Kesehatan menunjukkan sekitar 72 persen penyebab keracunan makanan berasal dari air yang terkontaminasi,” jelasnya.
Salah satu kejadian yang menjadi perhatian serius BGN terjadi di Kabupaten Bandung Barat, di mana air yang digunakan untuk memasak diketahui tercemar karena berada di wilayah yang dekat dengan pembuangan limbah Kota Bandung.
“Masalah seperti ini tidak bisa dianggap sepele. Jadi sementara waktu, kami wajibkan penggunaan air galon sampai semua lokasi memiliki sistem air bersih yang aman,” kata Nanik.
Ia menjelaskan bahwa kewajiban menggunakan air galon hanya bersifat sementara, hingga seluruh SPPG dilengkapi dengan instalasi pengolahan air dengan sistem filter dan sinar ultraviolet (UV). Dengan cara itu, air bisa disterilkan sebelum digunakan untuk memasak makanan MBG.
Namun, perbaikan air bukan satu-satunya masalah. Nanik juga menyoroti sanitasi dapur dan lingkungan sekitar yang dinilai masih kurang diperhatikan di sejumlah daerah. Banyak dapur MBG ditemukan berdekatan dengan tempat sampah, saluran air terbuka, hingga genangan kotor yang berpotensi menimbulkan kontaminasi silang.
“Sanitasi harus menjadi perhatian utama. Kalau lingkungan sekitar dapur kotor, makanan bergizi pun bisa berubah jadi sumber penyakit,” tegasnya.
BGN berencana memasukkan kebijakan penggunaan air layak dan pengawasan sanitasi ini dalam Peraturan Presiden (Perpres) tentang Tata Kelola MBG, yang saat ini masih dalam tahap finalisasi.
Selain itu, BGN juga akan menggandeng Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah untuk melakukan pengawasan rutin terhadap seluruh dapur penyedia MBG.
Program MBG yang dicanangkan pemerintah bertujuan meningkatkan gizi anak dan menekan angka stunting. Namun, menurut Nanik, keberhasilan program ini bukan hanya soal gizi, tetapi juga soal keamanan dan higienitas makanan.
“Kami tidak ingin ada lagi kasus anak-anak yang sakit setelah makan menu MBG. Karena itu, kami ubah pendekatan — bukan hanya bergizi, tapi juga harus aman dan bersih,” tegasnya.
Dengan langkah ini, BGN berharap seluruh penyelenggara MBG, terutama di daerah-daerah dengan keterbatasan infrastruktur air bersih, lebih disiplin dan sadar pentingnya kebersihan dalam pengelolaan makanan.
“Air galon hanyalah solusi sementara, tapi ini langkah penting untuk menyelamatkan ribuan anak dari risiko penyakit akibat makanan yang tidak aman,” pungkas Nanik. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | republika.co.id |
| Kategori | : | Balai Kota, Hukum |











