Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
14 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
2
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
4
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
Parlemen
3 jam yang lalu
Pelantikan 17 Pejabat Pemkot Pekanbaru, Komisi I DPRD Tagih Bukti Kinerja Nyata untuk Warga
5
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
DPRD Kota Pekanbaru Dukung Polda Riau Sikat Mafia BBM Subsidi, Minta Pengawasan Diperketat
6
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Gelanggang
3 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Ajukan Pembatalan Denda Rp20 Juta ke PSSI, Ini Bukti Kuat Manajemen
Home  /  Berita  /  Parlemen

Muktamar X PPP Ricuh, Dua Ketua Umum Versi Aklamasi Muncul

Muktamar X PPP Ricuh, Dua Ketua Umum Versi Aklamasi Muncul
Suasana kericuhan kader PPP saling baku hantam di arena Muktamar X 2025 di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Sabtu, 27 September 2025. (Foto: rmol/faisal aristama)
Rabu, 01 Oktober 2025 05:27 WIB

JAKARTA – Alih-alih memperkuat konsolidasi, Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Ancol, Jakarta Utara, justru menambah daftar panjang konflik internal. Forum yang berlangsung Sabtu (27/9/2025) itu berakhir dengan dua deklarasi kepemimpinan yang saling bertolak belakang.

Sejak pembukaan, tanda-tanda ketegangan sudah terlihat. Pidato Muhamad Mardiono yang kala itu masih menjabat Plt Ketua Umum disambut sorakan berlawanan. Ketika keluar dari ruangan, kericuhan pecah. Adu mulut, saling dorong, hingga pelemparan kursi mewarnai forum, sebelum akhirnya aparat mengendalikan situasi.

Mardiono kemudian mempercepat muktamar dengan alasan darurat dan menetapkan dirinya sebagai ketua umum melalui aklamasi. “Sebanyak 80 persen suara menyetujui percepatan,” klaimnya. 

Namun, langkah itu langsung dipatahkan kubu Agus Suparmanto. Mereka menuding sidang yang dipimpin Wakil Ketua Umum Amir Uskara berat sebelah. Kubu ini kemudian menggelar sidang sendiri, menolak laporan pertanggungjawaban Mardiono, dan secara aklamasi menetapkan Agus sebagai ketua umum periode 2025–2030.

Ketua Bidang Hukum DPP PPP, Andi Surya Wijaya, membela Mardiono dengan menegaskan hanya aklamasi yang dipimpin pihaknya yang sah. “Klaim kubu Agus itu ilegal,” katanya.

Sebaliknya, Sekretaris Steering Committee kubu Agus, Rusman Yakob, menilai keputusan aklamasi Mardiono cacat prosedur. “Proses kami sah dan konstitusional,” ujarnya, disambut tepuk tangan peserta tasyakuran yang digelar sehari setelah muktamar.

Dengan dua kepemimpinan yang sama-sama diklaim sah, PPP kembali masuk ke dalam pusaran dualisme. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: ke mana arah partai berlambang Ka’bah menjelang tahun politik berikutnya?. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Parlemen
wwwwww