Evakuasi Panjang Ponpes Al-Khoziny: 102 Santri Keluar, Puluhan Masih Terjebak
![]() |
| Tim Rescue Basarnas Yogyakarta diberangkatkan ke Ponpes Al-Khoziny, Kecamatan Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur untuk membantu evakuasi bangunan musala ponpes yang runtuh, Selasa (30/9). Foto: Dok. Basarnas Yogyakarta |
SIDOARJO – Upaya penyelamatan para santri Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, masih berlangsung dramatis hingga Selasa malam (30/9/2025). Petugas SAR menemukan tujuh santri masih hidup di bawah reruntuhan meski tubuh mereka terjepit beton.
Kepala Kantor SAR Surabaya, Nanang Sigit, mengatakan, tanda-tanda kehidupan terlihat ketika korban merespons cahaya lampu pencarian. “Beberapa korban menggerakkan kaki. Itu artinya mereka masih hidup,” ungkapnya.
Namun, tantangan besar mewarnai operasi evakuasi. Seorang santri bernama NA harus menjalani amputasi lengan di lokasi kejadian agar bisa dikeluarkan. Direktur Utama RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, Atok Irawan, menjelaskan keputusan itu sempat diprotes keluarga. “Akhirnya tetap dilakukan amputasi di tempat agar nyawa korban selamat,” ujarnya.
Sejauh ini, 102 santri berhasil dievakuasi. Tiga di antaranya meninggal dunia, sementara sekitar 38 santri masih terjebak di balik puing bangunan.
Selain operasi penyelamatan, dukungan psikologis juga diberikan. Tim psikologi Polda Jatim dan Polresta Sidoarjo turun langsung memberikan trauma healing kepada santri dan keluarga korban. “Kami mendengarkan cerita mereka, memberi dukungan, agar trauma tidak berkepanjangan,” kata AKBP Mujib Ridwan.
Tragedi ini segera memantik respons pejabat negara. Ketua DPR RI, Puan Maharani, menilai musibah tersebut menyingkap lemahnya pengawasan terhadap standar bangunan pendidikan. “Negara harus memastikan anak-anak belajar di tempat yang aman dan layak,” ujarnya.
Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang meninjau lokasi, menyebut peristiwa ini jadi pelajaran penting. “Ke depan, pembangunan pondok pesantren tidak boleh asal berdiri. Standar teknis wajib dipenuhi,” tegasnya.
Di tengah doa dan harapan, upaya penyelamatan terus berlanjut. Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa keselamatan santri harus ditempatkan di atas segalanya, bukan dikorbankan oleh kelalaian pembangunan. ***
| Editor | : | M Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | kumparan.com |
| Kategori | : | Warga Bertuah |











