Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
5 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Awan Disemai Garam, Sumbar Akhirnya Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang

Awan Disemai Garam, Sumbar Akhirnya Diguyur Hujan Usai Kemarau Panjang
Foto: Tim modifikasi cuaca di Sumbar. (dok. istimewa)
Sabtu, 26 Juli 2025 19:59 WIB

PADANG – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Sumatera Barat membuahkan hasil. Pada hari pertama pelaksanaan, Jumat (25/7/2025), hujan turun di sejumlah titik terdampak di Kabupaten Solok dan Lima Puluh Kota.

Penerbangan pertama dilakukan pukul 11.05 WIB dengan penyemaian 1 ton garam di wilayah Kabupaten Solok. Hasilnya, hujan ringan hingga sedang turun di wilayah tersebut. Penerbangan kedua menyasar wilayah utara Lima Puluh Kota pukul 14.20 WIB, yang juga memicu hujan di sejumlah nagari.

"Alhamdulillah, sudah mulai hujan di sini," ujar Kalaksa BPBD Lima Puluh Kota, Rahmadinol.

Ia menyebut hujan berlangsung sekitar 30 menit dengan intensitas bervariasi, terutama di Kecamatan Harau yang mencakup Nagari Bukik Balang, Bukik Limbuku, Koto Tuo, Lubuk Batingkok, dan Sarilamak. Hujan juga terjadi di Kecamatan Luak dan Lareh Sago Halaban, sementara di Nagari Tarantang dan Gurun hanya gerimis.

Operasi ini merupakan kolaborasi antara BNPB dan BMKG yang dijadwalkan berlangsung hingga Selasa (29/7/2025). Total sebanyak tiga ton garam dapur (Natrium Klorida/NaCl) disemai dari pesawat Cessna Grand Caravan 208B PK-NGT yang lepas landas dari Bandara Internasional Minangkabau.

Kepala BMKG Stasiun BIM, Desindra Deddy Kurniawan menjelaskan Juli merupakan puncak musim kering di Sumbar. Ia menyebut daerah seperti Solok dan Lima Puluh Kota telah lebih dari 60 hari tidak diguyur hujan.

"Hari ini muncul bibit awan di Solok, ini momentum penting untuk intervensi lewat OMC," katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Rudy Rinaldy mengatakan delapan daerah terdampak Karhutla yaitu Pesisir Selatan, Padang, Payakumbuh, Lima Puluh Kota, Solok, Padang Pariaman, Pasaman, dan Tanah Datar.

Dua kabupaten yang paling parah yakni Solok dan Lima Puluh Kota telah menetapkan status tanggap darurat. Rudy menyebutkan total lahan terbakar diperkirakan mencapai 500 hektare, meski data pasti masih dalam verifikasi karena fokus utama masih pada upaya pemadaman.

BPBD juga telah menyalurkan armada pengangkut air ke daerah terdampak, namun akses sulit karena lokasi berada di kawasan berbukit dan terjal. ***

wwwwww