Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
6 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Lingkungan

Krisis Air Akibat Karhutla, Modifikasi Cuaca Jadi Andalan Pemerintah Sumbar

Krisis Air Akibat Karhutla, Modifikasi Cuaca Jadi Andalan Pemerintah Sumbar
Jum'at, 25 Juli 2025 18:39 WIB

PADANG – Dalam upaya menanggulangi krisis akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mulai melaksanakan hujan buatan lewat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan menyusul kondisi kemarau panjang yang membuat dua kabupaten, Solok dan Lima Puluh Kota, menetapkan status tanggap darurat.

OMC menjadi harapan terakhir mengingat wilayah terdampak tidak diguyur hujan lebih dari dua bulan terakhir. Kepala Pelaksana BPBD Sumbar, Rudy Rinaldy mengatakan operasi akan dimulai Jumat (25/7/2025), dengan target utama Lima Puluh Kota.

"Begitu muncul bibit awan, langsung kami semai dengan garam untuk memancing hujan. Kami prioritaskan daerah yang sangat kering dan berasap tebal," ujar Rudy usai rapat koordinasi, Kamis (24/7/2025).

Dari laporan yang diterima BPBD, tujuh daerah di Sumbar dilanda karhutla dengan luasan hampir 500 hektare. OMC didukung penuh oleh BNPB dan BMKG sebagai bagian dari intervensi darurat untuk mengatasi penyebaran asap dan kerusakan lahan.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan menjelaskan Juli adalah puncak musim kemarau, dan kondisi ini sangat rawan kebakaran. “OMC sangat vital, karena udara kering ini bisa bertahan sampai September,” katanya.

Koordinator Lapangan OMC, Candra Fadilah menyebutkan operasi akan berlangsung sampai 29 Juli 2025 dengan pola tiga kali penerbangan setiap hari.

"Setiap penerbangan kami bawa 1 ton garam untuk disemai. Jadi 3 ton per hari disemai ke langit Sumbar. Kalau bibit awan bagus, hujan bisa turun dalam waktu singkat," jelasnya.

Menurut Candra, efektivitas hujan buatan dapat mencapai 80% jika penyemaian dilakukan tepat sasaran. Perpanjangan OMC bisa dilakukan jika kondisi memungkinkan. ***

wwwwww