Uni Eropa Siapkan Sistem Baru untuk Lindungi Perdagangan
![]() |
| Gedung Parlemen Uni Eropa di Strasbourg, Prancis. [foto: afp] |
Langkah ini dibahas dalam pertemuan para pemimpin Eropa di Brussels, Kamis (26/6/2025), sebagai respons atas rencana Trump menerapkan tarif menyeluruh 10 persen terhadap seluruh impor dari Uni Eropa. Sebelumnya, tarif tinggi juga telah dikenakan pada baja, aluminium, dan produk Eropa lainnya tanpa proses di WTO.
"Ini saatnya kita menyusun ulang sistem perdagangan dunia," ujar Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Ia mengusulkan kerja sama antara Uni Eropa dan negara-negara anggota CPTPP untuk membentuk lembaga baru yang mampu menjalankan fungsi penyelesaian sengketa, menggantikan WTO yang tidak lagi efektif sejak 2019.
Menurutnya, kolaborasi ini bisa menjadi model perdagangan bebas berbasis aturan, tanpa perlu bergantung pada Amerika Serikat. "Negara-negara Asia ingin kerja sama terstruktur dengan UE, dan UE pun demikian," tegasnya.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyambut baik usulan tersebut. "WTO tidak berfungsi lagi. Kita butuh sistem baru bersama mitra dagang global," ujarnya usai berbicara dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.
Meski Uni Eropa dan 28 negara lain telah membentuk MPIA sebagai mekanisme sengketa sementara, von der Leyen menyebutnya tidak cukup kuat secara hukum. Karena itu, diperlukan inisiatif yang lebih komprehensif dan berdaya jangkau luas.
Komisi Eropa juga telah menerima proposal perdagangan dari AS dan tengah mempelajarinya. Sebagian besar anggota mendukung negosiasi cepat untuk meredakan ketegangan, namun ada kekhawatiran mendalam terhadap usulan tarif 10 persen dari Trump. "Kami tetap terbuka pada semua kemungkinan," tambah von der Leyen.
Efek kebijakan perdagangan Trump sudah mulai terasa. Komisi Eropa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi zona euro 2025 dari 1,3 persen menjadi 0,9 persen. Analis memperingatkan dampak tarif AS dapat memangkas hampir 1 persen PDB Uni Eropa, terutama membebani sektor manufaktur seperti di Jerman. ***
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Adrianto |
| Sumber | : | Inilah.com |
| Kategori | : | Cendekia, Kuliner, Pasar & Niaga, Balai Kota, Parlemen |











