Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
Gelanggang
21 jam yang lalu
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
2
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
20 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
3
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Sepakbola
19 jam yang lalu
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
4
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
Gelanggang
22 jam yang lalu
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
5
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
7 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
6
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Sepakbola
3 jam yang lalu
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Gaza Tanpa Bahan Bakar, Warga Bertahan Hidup dengan Membakar Sampah Plastik

Gaza Tanpa Bahan Bakar, Warga Bertahan Hidup dengan Membakar Sampah Plastik
Warga Palestina berduka atas kematian seorang korban serangan udara Israel di sebuah rumah sakit di Kota Gaza pada 25 Juni 2025. (antara/xinhua/mahmoud zaki)
Kamis, 26 Juni 2025 17:45 WIB

JAKARTA – Di tengah gempuran serangan dan kelaparan, warga Gaza kini menghadapi ancaman baru: asap beracun dari sampah plastik yang dibakar untuk memasak. Kelangkaan gas dan bahan bakar memaksa ribuan keluarga bertahan hidup dengan cara ekstrem.

"Karena kekurangan bahan bakar, gas, dan listrik, warga terpaksa membakar sampah plastik untuk memasak," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Rabu (25/6/2025).

Penggunaan plastik sebagai bahan bakar terjadi di tempat penampungan sementara dengan ventilasi buruk, yang berisiko besar terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Situasi ini makin diperparah oleh pembatasan Israel terhadap pengiriman bahan bakar dan distribusinya di Gaza. Dampaknya langsung dirasakan oleh layanan penyelamatan dan rumah sakit.

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan 149 korban datang ke Rumah Sakit Lapangan di Rafah pada Selasa (24/6), sebagian besar menderita luka tembak saat mencari bantuan. Enam belas orang meninggal saat tiba, tiga lainnya menyusul.

"Kami telah mengaktifkan prosedur penanganan korban massal 20 kali sejak 27 Mei. Ini menunjukkan bahaya luar biasa yang dihadapi warga hanya untuk mendapat bantuan," jelas ICRC.

Menurut Dana Kependudukan PBB, 80 persen unit perawatan kritis terancam tutup, termasuk ruang bersalin, dengan 130 kelahiran setiap hari di Gaza.

OCHA mencatat penurunan drastis distribusi makanan: hanya 200.000 porsi per hari dari sebelumnya 1 juta. Jumlah ini tak mencukupi bagi jutaan warga yang kelaparan.

Badan tersebut menegaskan pentingnya membuka perlintasan baru dan mengizinkan pasokan esensial seperti makanan, gas, dan bahan bakar masuk dalam jumlah besar.

"Distribusi bantuan harus dilakukan rutin dan merata melalui beberapa jalur darat agar warga merasa aman dan terbantu," papar OCHA.

Selasa lalu, dari 15 misi kemanusiaan yang direncanakan, hanya empat yang berhasil. Tujuh ditolak sepenuhnya, tiga lainnya terhambat, dan satu batal dilakukan.

Di sisi lain, ribuan siswa Gaza kembali gagal mengikuti ujian sekolah menengah karena konflik, pengungsian, dan jaringan internet yang lumpuh. Tahun lalu, jumlah siswa yang tak ikut ujian mencapai 39.000. (ant)

wwwwww