Gaza Tanpa Bahan Bakar, Warga Bertahan Hidup dengan Membakar Sampah Plastik
![]() |
| Warga Palestina berduka atas kematian seorang korban serangan udara Israel di sebuah rumah sakit di Kota Gaza pada 25 Juni 2025. (antara/xinhua/mahmoud zaki) |
JAKARTA – Di tengah gempuran serangan dan kelaparan, warga Gaza kini menghadapi ancaman baru: asap beracun dari sampah plastik yang dibakar untuk memasak. Kelangkaan gas dan bahan bakar memaksa ribuan keluarga bertahan hidup dengan cara ekstrem.
"Karena kekurangan bahan bakar, gas, dan listrik, warga terpaksa membakar sampah plastik untuk memasak," ungkap Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), Rabu (25/6/2025).
Penggunaan plastik sebagai bahan bakar terjadi di tempat penampungan sementara dengan ventilasi buruk, yang berisiko besar terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Situasi ini makin diperparah oleh pembatasan Israel terhadap pengiriman bahan bakar dan distribusinya di Gaza. Dampaknya langsung dirasakan oleh layanan penyelamatan dan rumah sakit.
Komite Palang Merah Internasional (ICRC) melaporkan 149 korban datang ke Rumah Sakit Lapangan di Rafah pada Selasa (24/6), sebagian besar menderita luka tembak saat mencari bantuan. Enam belas orang meninggal saat tiba, tiga lainnya menyusul.
"Kami telah mengaktifkan prosedur penanganan korban massal 20 kali sejak 27 Mei. Ini menunjukkan bahaya luar biasa yang dihadapi warga hanya untuk mendapat bantuan," jelas ICRC.
Menurut Dana Kependudukan PBB, 80 persen unit perawatan kritis terancam tutup, termasuk ruang bersalin, dengan 130 kelahiran setiap hari di Gaza.
OCHA mencatat penurunan drastis distribusi makanan: hanya 200.000 porsi per hari dari sebelumnya 1 juta. Jumlah ini tak mencukupi bagi jutaan warga yang kelaparan.
Badan tersebut menegaskan pentingnya membuka perlintasan baru dan mengizinkan pasokan esensial seperti makanan, gas, dan bahan bakar masuk dalam jumlah besar.
"Distribusi bantuan harus dilakukan rutin dan merata melalui beberapa jalur darat agar warga merasa aman dan terbantu," papar OCHA.
Selasa lalu, dari 15 misi kemanusiaan yang direncanakan, hanya empat yang berhasil. Tujuh ditolak sepenuhnya, tiga lainnya terhambat, dan satu batal dilakukan.
Di sisi lain, ribuan siswa Gaza kembali gagal mengikuti ujian sekolah menengah karena konflik, pengungsian, dan jaringan internet yang lumpuh. Tahun lalu, jumlah siswa yang tak ikut ujian mencapai 39.000. (ant)
| Editor | : | Muhammad Rafdinal Adrianto |
| Kategori | : | Kuliner, Warga Bertuah, Lingkungan, Kesehatan, Binawidya, Bukit Raya, Kulim, Lima Puluh, Marpoyan Damai, Payung Sekaki, Pekanbaru Kota, Rumbai, Rumbai Barat, Sail, Rumbai Timur, Senapelan, Sukajadi, Tenayan Raya, Tuah Madani, Pekanbaru, Nusantara, Pekansikawan, Jiran, Jakarta, Riau |











