Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ratusan Pengurus IMI Se-Indonesia Padati Pekanbaru, Sektor Perhotelan dan Kuliner Kecipratan Untung
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Jelang Kongres PSSI, Iwan Bule "Dikerjain" dengan Lupakan Fakta Prestasi

Jelang Kongres PSSI, Iwan Bule Dikerjain dengan Lupakan Fakta Prestasi
Ketua Umum PSSI, Mocahmad Iriawan. (Istimewa)
Jum'at, 16 Desember 2022 17:48 WIB
Penulis: Azhari Nasution

JAKARTA - PSSI di bawah kepemimpinan Mochamad Iriawan akan menghadapi dua agenda penting di tanun 2023. Pertama, PSSI akan menggelar Kongres BIasa (KB) yang dijadwalkan 7 Januari 2023 dan penyelenggaraan Turnamen Sepakbola Piala Asia U 20 yang akan berlangsung 20 Mei hingga 11 Juni 2023.

Terkait dua agenda penting tersebut, pengamat sepakbola, Rayana Djakasurya angkat bicara. Dia menyebut Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan yang akrab disapa Iwan Bule terus "dikerjain" dengan mengaitkannya pada Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada awal Oktober lalu. Padahal, prestasi Tim Nasional (Timnas) di bawah komando Iwan Bule cukup bagus dan juga peringkat Indonesia meningkat.

Timnas U 16 Indonesia mampu mempersembahkan gelar juara Piala AFF U 16 2022. Kemudian, Timnas Indonesia melaju ke putaran final Piala Asia 2023, Timnas U 20 Indonesia U 20 masuk dalam putaran final Piala Asia U 20 tahun 2023. Lalu, Timnas putri Indonesia berlaga di putaran final Piala Asia 2022.

"Data berbicara. Sederet prestasi telah dicapai Timnas Indonesia saat PSSI dipimpin Iwan Bule," kata pengamat sepakbola, Rayana Djakasurya yang dihubungi Kamis (15/12/2022) malam.

Sederat prestasi itu, kata Rayana, tidak gampang dicapai karena Iwan Bule yang menjabat menjabat pada awal November 2019 lalu, tidak bisa bekerja penuh. Pandemi Covid-19 yang melanda dunia mulai Maret 2019 hingga 2021 menghentikan seluruh kegiatan olahraga termasuk sepakbola.

"Praktis Iwan Bule bekerja dalam waktu singkat karena dua tahun terpotong Pandemi Covid-19. Tetapi, dia mampu memanfaatkan waktu yang singkat itu dengan hasil yang cukup bagus. Itu harus diakui," tegas Rayana Djakasurya.

Rayana juga menyebut dari data yang dimilikinya prestasi Timnas Putri Indonesia yang berlaga di putaran final Piala Asia 2022 itu mengulang prestasi sebelumnya di putaran final AFC Women's pada tahun 1989 lalu.

Kesuksesan yang telah dicapai itu menyebabkan peringkat Indonesia di FIFA meningkat. Sebelum Iwan Bule menjabat sebagai Ketua Umum PSSI pada 2019 lalu, Indonesia berada di posisi 173, tapi sejak Oktober 2022 lalu Indonesia berada di urutan ke-152. Artinya, secara total peringkat Indonesia di FIFA naik 21 tingkat saat Mochamad Iriawan memegang komando PSSI.

"Itu sebuah prestasi yang diakui oleh dunia, yakni FIFA, melalui sosok Mochamad Iriawan ketika memimpin PSSI, dirinya mampu merealisasikan perubahan grafik yang signifikan dan nyata bagi persepakbolaan Indonesia. Tidak dibuat-buat dan tidak menyogok orang FIFA. Sekali lagi, saya bilang ini prestasi dan semua masyarakat sepakbola Indonesia turut menikmatinya," tandasnya.

Perjuangan Iwan Bule dalam membangun sepakbola Indonesia patut diakui. "Ketika FIFA melihat persepakbolaan kita acak-acakan kemudian Iwan Bule masuk maka terjadilah prestasi-prestasi itu. Masyarakat sepakbola harus melihat ke arah itu," ungkapnya.
Pengamat sepakbola yang hampir 25 tahun tinggal di Italia itu mengatakan tidak elok membawa-bawa nama Iwan Bule terkait Tragedi Kanjuruhan. Karena, menurutnya, tidak ada kaitan tragedi tersebut dengan sepak terjang yang selama ini telah ditorehkan Iwan Bule terhadap prestasi persepakbolaan Indonesia.

"Gara-gara masalah kelalaian Panpel di Malang, kok malah ini Iwan Bule yang disalahkan. Tidak ada aturan mainnya bahwa dia harus digoyang dan mengundurkan diri karena dia kan tidak terlibat dalam terjadinya masalah tersebut," tegasnya.

"Kasihan dia dizalimi. Ga ada hubungannya, karena nanti setiap ada Ketua PSSI yang seumpamanya dibenci oleh seseorang atau kelompok, mereka akan goyang melalui masalah-masalah dengan membuat skenario lain. Kapan majunya persepakbolaan kita kalau itu terus terjadi, bahkan FIFA tidak menyebut bahwa organisasi PSSI seburuk itu," tambahnya.

Menurut Rayana, Tragedi Kanjuruhan itu terjadi setelah pertandingan berakhir 2x45 menit. Jadi, secara aturan itu bukan tanggung jawab PSSI. Makanya, kata Rayana lagi, tidak ada alasan untuk menggantikan posisi Iwan Bule yang tidak melanggar statuta FIFA melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PSSI yang terlalu dipaksakan.

Sebagai contoh, Rayana menyebut tragedi Heysel yang menelan 39 korban tewas saat pertandingan Liverpool melawan Juventus pada laga final UEFA pada 31 Mei 1985 lalu. Ia menyebutkan dari tragedi Heysel itu tidak ada yang dituntut untuk mundur.  

"Saat Tragedi Heysel itu kan tidak ada pemaksaan pergantian Ketua Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Begitu juga terhadap Presiden UEFA. Kasus bentrokan antar suporter tersebut diselesaikan dengan adanya perbaikan sarana Stadion Heysel dengan menghilangkan tembok pembatas penonton," ungkapnya. 

Seharusnya dalam kasus Tragedi Kanjuruhan, kata Rayana, sudah tuntas dengan dijadikannya panitia laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dan operator kompetisi dalam hal ini Direktur PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai tersangka.

Iwan Bule menjabat sebagai Ketua Umum PSSI melalui mekanisme Kongres Luar Biasa dan dipilih oleh para pemegang hak suara yang sah. Terkait KLB yang akan berlangsung pada tahun 2023 nanti, Rayana mengatakan harus ikuti aturan mainnya.

"Polemik yang terjadi terhadap persepakbolaan Indonesia saat ini, khususnya terkait PSSI dengan adanya like and dislike itu diluar aturan main. Janganlah sepakbola kita didasari dengan kebencian, sehingga terciptanya drama-drama yang diluar aturan main dan jangan ini dijadikan kendaraan politik," tegasnya.

Rayana menilai PSSI sudah berjalan on the track dimana kebijakan-kebijakannya jalan, apalagi terjalinnya sinergi dengan pihak-pihak lain seperti para sponsor dan pemerintah. "Menyingkirkan Iwan Bule bukan jalan keluar terbaik bagi persepakbolaan Indonesia. Alangkah baiknya jika menunggu periode kepemimpinannya berakhir. Sabarlah.. November 2023 itu tidak lama lagi kok. Sesuatu yang digapai melalui prosedur akan lebih baik dan indah," pungkasnya. ***

wwwwww