Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Waspadai Kebugaran Pemain Jelang Laga Perdana League Cup Kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC
Gelanggang
22 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Waspadai Kebugaran Pemain Jelang Laga Perdana League Cup Kontra Bhayangkara Presisi Lampung FC
2
Pemkot Pekanbaru Capai 150 Persen Vaksinasi Bayi, Lampaui Target Imunisasi Kejar Nasional
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Capai 150 Persen Vaksinasi Bayi, Lampaui Target Imunisasi Kejar Nasional
3
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho Buka MTQ Binawidya 2026 di Kampus Unri
Binawidya
22 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho Buka MTQ Binawidya 2026 di Kampus Unri
4
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Home  /  Berita  /  Kesehatan

Doni Monardo: Walau Sudah Booster, Jangan Kendor

Doni Monardo: Walau Sudah Booster, Jangan Kendor
Doni Monardo (Ist)
Senin, 14 Februari 2022 17:52 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA – Meski Anda sudah dua kali suntik vaksin, bahkan sudah di-booster, tetap harus waspada. “Jangan kendor dan jangan anggap enteng Covid-19, meski sudah di-booster. Sebab, tidak ada penelitian yang menyebutkan, bahwa dengan booster Anda terhindar dari paparan Covid-19,” kata Ketua Umum DPP PPAD, Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, di Jakarta, hari ini (14/2/2022).

Seperti diketahui, pemerintah sedang menggalakkan booster. Vaksinasi booster adalah vaksinasi Covid-19 setelah seseorang mendapat vaksinasi primer dosis lengkap yang ditujukan untuk mempertahankan tingkat kekebalan serta memperpanjang masa perlindungan.

“Jika lengah, kita tetap bisa terpapar. Dan bila terpapar kemudian sembuh, masih ada risiko penyakit yang menyertai. Ingat-ingatlah itu,” pesan Doni, mantan Kepala BNPB dan Ketua Satgas Covid-19.

Kepada seluruh purnawirawan TNI-AD, serta masyarakat luas pada umumnya, Doni meminta agar mengikuti kebijakan pemerintah dan pertimbangan WHO (Badan Kesehatan Dunia). “Rujukan kita adalah pemerintah dan pertimbangan WHO, bukan individu atau orang per orang,” tegasnya.

Akhir-akhir ini, tersiar informasi dari sejumlah individu yang mengajak masyarakat mengakhiri pandemi dengan cara masing-masing. Antara lain menolak memakai masker, menolak vaksinasi, bahkan menolak di-swab. Ia mencoba mempengaruhi masyarakat dengan dalih menyesatkan.

“Jangan terpengaruh ajakan tersebut, karena bisa membahayakan keselamatan kita. Ingat, tiap-tiap negara memiliki kebijakan dan pertimbangan dalam menghadapi pandemi. Mari kita ikuti kebijakan pemerintah dan taat arahan kepala negara. Patuh dan taat terhadap protokol kesehatan dan laksanakan program vaksinasi,” papar Doni.

Tak lupa, mantan Danjen Kopassus itu menegaskan kalimat “salus populi seprema lex”. Sebuah asas yang memiliki makna “keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi”. Kalimat itu tidak hanya asas tetapi menjadi adagium hukum. Dengan adagium itu pula Doni Monardo memimpin pasukan saat menjabat “panglima” perang melawan Covid-19.

Salus Populi Suprema Lex Esto, begitu kalimat lengkapnya, merupakan adagium hukum yang pertama diucapkan oleh Cicero, seorang filsuf Italia. Filosofi itu bahkan ada dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat: “keselamatan dan kemakmuran rakyat merupakan tujuan utama bernegara”.

Doni pun berharap, aparat negara tidak kendor dalam memerangi wabah, termasuk dalam menegakkan aturan. Sebab, keselamatan rakyat adalah hukum yang tertinggi. ***

wwwwww