Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
Sepakbola
16 jam yang lalu
Dua Blunder Berujung Fatal, PSPS Tertinggal 0-2 dari Bhayangkara FC di Babak Pertama
2
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
Gelanggang
17 jam yang lalu
Hujan Petir Melanda Pekanbaru, Laga Sengit PSPS Kontra Bhayangkara FC Tetap Bergulir
3
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
Sepakbola
14 jam yang lalu
Diwarnai Drama VAR dan Penalti, Askar Bertuah Telan Kekalahan Perdana di Pekanbaru
4
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
Gelanggang
17 jam yang lalu
Duel di Tengah Guyuran Hujan Pekanbaru, PSPS Pasang Duet Gamaroni dan Ilham Hadapi Bhayangkara FC
5
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
3 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
6
PSPS Pekanbaru Takluk 1-3 dari Bhayangkara FC, Oscar Bruzon Puji Semangat Juang Tuan Rumah
Sepakbola
28 menit yang lalu
PSPS Pekanbaru Takluk 1-3 dari Bhayangkara FC, Oscar Bruzon Puji Semangat Juang Tuan Rumah
Home  /  Berita  /  Parlemen

Ambang Batas Parlemen, PPP: Kalau Bisa Turun Jadi 3 Persen

Ambang Batas Parlemen, PPP: Kalau Bisa Turun Jadi 3 Persen
Anggota Komisi II DPR Fraksi PPP Syamsurizal. (Istimewa)
Selasa, 09 Juni 2020 16:19 WIB
JAKARTA - Anggota Komisi II DPR Fraksi PPP Syamsurizal mengungkapkan PPP mengusulkan agar besaran ambang batas parlemen (parliamentary threshold/PT) tetap di angka 4 persen. Bahkan, menurutnya, akan lebih baik jika bisa diturunkan lagi menjadi 3 persen.

"Kita mengingkan kalau bisa itu 4, kalau bisa turun lagi," kata Syamsurizal seperti dilansir GoNews.co dari Republika, Senin (8/6).

Sementara, untuk besaran ambang batas DPRD Provinsi dan DPRD kabupaten/kota, PPP menginginkan agar besarannya di angka 0 persen. Menurutnya, pilihan tersebut dipilih sebagai upaya untuk meneguhkan bahwa sistem pemilu di Indonesia yakni proporsional, bukan distrik.

"Karena besaran PT semakin tinggi maka akan semakin besar potensi suara pemilih yang hangus," ujarnya.

Ia mencontohkan, sebanyak 13,5 juta (9 persen) suara pemilih hangus pada pemilu 2019 lalu. Menurutnya hal tersebut tidak baik untuk demokrasi.

Selain itu, menurutnya, besaran ambang batas parlemen 4 persen juga penting untuk memberi kesempatan kepada partai lain untuk bisa menyelenggarakan pemerintahan. Sebaliknya, jika semakin tinggi parliamentary threshold, justru yang terjadi yaitu kediktatoran.

"Jadi ini yang kita tidak mau terjadi. Karena itu, kita ingin sama-sama lah menyelenggarakan pemerintahan," tuturnya.

Dirinya juga menjawab terkait alasan dinaikannya parliamentary threshold yang selalu dikaitkan dengan penyederhanaan partai politik dan efektivitas pemerintahan. Menurut Syamsurizal, gagasan tersebut tidak linier dengan praktik di lapangan.

"Seperti saat ini, Parlemen hasil Pemilu 2019 yang menerapkan PT 4 persen yang menghasilkan 9 fraksi di DPR, nyatanya efektivitas pemerintahan dan dinamika parlemen tetap berjalan ideal yang tidak keluar dari spirit demokrasi dan sistem presidensial.***

Editor:Muslikhin Effendy
Sumber:Republika.co.id
Kategori:Balai Kota, Parlemen
wwwwww