Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
4
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
5 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
5
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Fadel Muhammad Harap 4 Pilar Menginternalisasi Civitas Universitas Universal

Fadel Muhammad Harap 4 Pilar Menginternalisasi Civitas Universitas Universal
Wakil Ketua MPR RI, Fadel Muhammad saat mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI di Universitas Universal, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/2/2020). (Foto: MPR RI)
Senin, 24 Februari 2020 23:00 WIB
KEPRI - Di hadapan ratusan mahasiswa, rektor, dan dosen Universitas Universal, Kota Batam, Kepulauan Riau, pada Senin (24/2/2020), Wakil Ketua MPR RI Fadel Muhammad mengatakan, sosialisasi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau 4 Pilar MPR RI, "merupakan salah satu tugas MPR di samping tugas-tugas yang lain,".

Fadel menyebut MPR, merasa bangsa ini harus memiliki ideologi di mana ideologi itu mampu sebagai perekat persatuan.

"Bila suatu negara tidak memiliki ideologi maka bangsa itu akan goyah," paparnya.

Ideologi di masing-masing negara disebut Fadel, beragam. Ada yang sosialis, komunis, liberalis, dan kapitalis.

Bangsa Indonesia dikatakan sebagai bangsa yang plural atau majemuk. Terdiri dari beragam suku, bahasa, agama, bahasa, dan budaya.

Dari sinilah, menurut mantan Gubernur Gorontalo itu, lahirlah Pancasila. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa ditegaskan harus menjadi landasan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara bagi setiap orang Indonesia.

"Setiap orang harus memiliki ideologi Pancasila, tanpa ideologi seperti badan tanpa nyawa," ucapnya.

Selain Pancasila menurut Fadel bangsa Indonesia harus menjadikan UUD sebagai pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh aturan yang ada harus berlandaskan pada konstitusi itu.

"Tak boleh ada aturan yang bertentangan dengan UUD," paparnya.

Diungkapkan, bila ada aturan, undang-undang, yang bertentangan dengan UUD, mahasiswa dan masyarakat bisa mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Banyak pasal dalam undang-undang telah dibatalkan oleh MK," tuturnya.

Dalam bentuk negara, Fadel mengakui ada perdebatan. Ada yang ingin federal, serikat, dan bentuk lainnya. Setelah berdebat secara dinamis dan berkembang, akhirnya bangsa Indonesia memilih bentuk NKRI.

"Akhirnya kita bersepakat dengan bentuk negara kesatuan," papar alumni ITB itu.

Meski demikian, bangsa ini beragam dan terdiri dari berbagai suku seperti Jawa, Sunda, Gorontalo, Madura, Bali, Batak, Minang, dan lain sebagainya.

Demikian dalam masalah bahasa yang beraneka pula. Terkait keragaman, para pendiri bangsa mencari slogan apa yang bisa menyatukan keragaman itu sehingga diambil kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika'.

"Berbeda-beda tetapi satu," ucapnya.

Dari kesemua pilar MPR, Fadel menegaskan agar menyatu pada diri masyarakat Indonesia.

Dinamika masyarakat dalam merespon wacana amandemen, ditegaskan oleh Fadel, bahwa amandemen hanya sebatas pada menghidupkan pokok-pokok haluan negara ada dalam UUD.

Haluan negara, menurutnya, sudah ada sejak jaman Presiden Soekarno yang disebut sebagai Pembangunan Semesta. Pada masa Presiden Soeharto disebut GBHN. "Sekarang kita bikin pokok-pokok haluan negara,".

Dalam pokok-pokok haluan negara dirancang pembangunan 25 tahun hingga 50 tahun. Pada masa Presiden Soeharto dulu ada Repelita (rencana pembangunan lima tahun).

Saat ini, diakui, landasan pembangunan yang dijalankan oleh presiden, gubernur, bupati, dan walikota berdasarkan pada visi dan misi sehingga di antara mereka terkadang ada yang bertentangan atau tidak sinkron.

Inilah yang kita khawatirkan," ujar Fadel.

Sebagai seorang yang pernah menduduki berbagai jabatan dan profesi, seperti Pengusaha, Gubernur, Menteri, hingga Wakil Ketua MPR, dalam kesempatan tersebut Fadel mendorong agar sumber daya manusia bangsa ini harus semakin bagus dan maju.

Ia mengharap agar lulusan Universitas Universal, bisa kreatif setelah lulus dari kuliah. Dirinya ingin lulusan perguruan tinggi lebih berorientasi pada jiwa kewirausahaan.

"Kita harus berpikir bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja," paparnya.

Jiwa orang yang berwirausaha dengan orang yang sekadar bekerja disebut berbeda. Orang yang punya jiwa berwirausaha adalah orang yang mempunyai gagasan dan pikiran, ada peluang apa di masyarakat.

"Peluang yang ada itu ingin dimanfaatkan," ucapnya.

Sebagai pimpinan dari Kelompok DPD, Fadel ingin semangat kewirausahaan itu diimplementasikan dalam membangun daerah.

"Orang yang unggul adalah mereka yang mempunyai pikiran kewirausahaan," ucapnya.***

Editor:Muhammad Dzulfiqar
Kategori:GoNews Group, Hukum, Parlemen
wwwwww