Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
Nasional
18 jam yang lalu
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
2
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
Nasional
15 jam yang lalu
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
Nasional
15 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
4
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Sepakbola
18 jam yang lalu
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
5
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
6
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
21 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Rizal Ramli Mengaku Setuju dengan Seruan Presiden untuk Tingkatkan Effisiensi BUMN

Rizal Ramli Mengaku Setuju dengan Seruan Presiden untuk Tingkatkan Effisiensi BUMN
Istimewa.
Kamis, 05 Oktober 2017 17:06 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ekonom senior Indonesia Rizal Ramli sepakat dengan wacana Presiden Jokowi untuk me-merger BUMN-BUMN yang tak efisien itu di-merger dengan maksud  agar efisien, tangguh dan kompetitif.

"BUMN  itu masuk ke sektor dimana pihak swasta tak sanggup, dan BUMN juga jangan main sing printil-printil, harus punya strategi yang baik, harus fokus pada core business, harus tangguh dan bisa kompetitif. Maka cost BUMN itu bisa kita turunkan dan performannya bisa kita tingkatkan. Saya dukung kemauan atau keinginan Presiden Jokowi  dan itu sudah benar," ujarnya kepada wartawan, Kamis (5/10/2017).

Mantan Menko Ekuin dan Mantan Menko Kemaritiman ini juga mengusulkan beberapa hal penting untuk memperbaiki kinerja BUMN saat ini.

Pertama,  pemerintah tidak bisa menyuntik modal terus menerus kepada BUMN dan juga tak bisa BUMN asal taruh preskom/direksi karena koneksi dan setor sana sini.

Kedua, menurut Rizal yaitu, jangan menempatkan orang bermasalah untuk  pimpin BUMN hanya karena dia mau setor. Penting sekali mencari orang professional, dan strateginya  harus jelas dan bagus.

Ketiga, sesuai pengalaman pribadinya di BUMN, BUMN itu pemasoknya  pada KKN, maka pemerintah harus  minta turunkan biaya KKN itu. "Semua pemasok BUMN yang KKN musti ditekan dan kalau tak mau nurut, maka wajib diganti  dengan pemasok yang lain," tukasnya.

Lebih jauh, pria yang akrab disapa RR ini menuturkan, Indonesia bisa menaikkan produktifitas dan kualitas. Misalnya, BUMN perkebunan, biaya BUMN PTPN itu lebih mahal 2000 dolar/hektare dan itu lebih mahal dari swasta. "Kalau 2000 dolar AS/hektare itu bisa ditekan dan diefisiensikan, maka setiap 2 juta hektare perkebunan PTPN, pemerintah akan mendapat dua miliar dolar AS dari perkebunan itu," paparnya.

"Sayangnya BUMN perkebunan kita tak efisien. Umumnya BUMN dan swasta kita  itu  jago kandang. Konglomerat kita harus kita ajari dan kita bimbing agar masuk pasar global, bisa berkompetisi di global market, harus kita dorong jadi jago dunia. Kita cari strateginya, kita bimbing, dengan sungguh-sungguh,  bisa kok," tegasnya.

Menurut RR, jika konglomerat Indonesia masuk pasar global, maka para konglomerat itu akan menyeret/menarik gerbong  pengusaha menengah dan kecil untuk masuk global market. Dia juga mencontohkan, seperti Korsel yang ada konglomerat, difasilitasi dan dikaitkan dengan performance ekspor.

"Park Chung Hee memonitor konglomerat Korsel, Pak Harto pun  kasih dana murah ke konglomerat dan mereka tumbuh besar, tapi tak dikaitkan dengan ekspor, maka mereka  jadi raksasa  jago kandang. Cuma indomie dan obat tolak angin yang masuk di pasar dunia," imbuh RR.

"Kita harus ubah struktur konglomerasi maka kalau konglomerat jago dunia, maka akan menarik gerbong pengusaha UMKM. Meski pasar domestic sangat menarik, itu tak cukup, harus kita dorong masuk pasar global, dunia," pungkasnya. ***

wwwwww