Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
Nasional
16 jam yang lalu
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
2
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
23 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
3
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
6
Ringankan Beban Orang Tua, DPRD Pekanbaru Dorong Seluruh Siswa SD dan SMP Dapat Seragam Gratis
Parlemen
18 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, DPRD Pekanbaru Dorong Seluruh Siswa SD dan SMP Dapat Seragam Gratis
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Diperlakukan Sebagai Ancaman, Pegawai Berhijab Ini Pilih Tinggalkan Gedung Putih 8 Hari Setelah Trump Dilantik

Diperlakukan Sebagai Ancaman, Pegawai Berhijab Ini Pilih Tinggalkan Gedung Putih 8 Hari Setelah Trump Dilantik
Rumana Ahmad. (merdeka.com)
Minggu, 26 Februari 2017 18:50 WIB
NEW YORK - Rumana Ahmad adalah muslimah pegawai di Gedung Putih yang memakai hijab. Dia sudah bekerja di Gedung Putih sejak 2011.

Dikutip dari merdeka.com, pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama dia dipromosikan bekerja di bagian Dewan Keamanan Nasional. Sejak itu dia menjadi bagian dari tim penasihat Obama, khususnya dalam isu muslim Amerika.

''Saya satu-satunya muslimah berhijab ketika itu dan pemerintah Obama selalu membuat saya merasa diterima di Gedung Putih,'' kata dia, seperti dilansir the Atlantic, Kamis (23/2).

Namun ketika Trump terpilih jadi presiden AS dan dilantik pada 20 Januari lalu, suasana Gedung Putih berubah 180 derajat. Paling tidak itu yang dirasakan Rumana.

''Pada Senin 23 Januari saya berjalan ke Gedung Eisenhower bertemu dengan staf baru di sana. Dengan tatapan dingin mereka terlihat terkejut atas kedatangan saya,'' kata Rumana.

Ketika Trump mengeluarkan kebijakan larangan imigrasi bagi warga dari tujuh negara muslim dan pengungsi Suriah, Rumana memutuskan dia ingin tetap bertahan walau dia tidak setuju dengan kebijakan itu.

''Saya tahu saya tidak bisa tetap berada di Gedung Putih di pemerintahan yang melihat saya dan orang seperti saya bukan sebagai sesama warga negara tapi sebagai ancaman,'' kata dia.

Akhirnya Rumana mengaku tidak tahan lagi dengan kondisi di Gedung Putih setelah Trump dilantik.

''Saya hanya bertahan delapan hari,'' kata dia.

''Malam sebelum pergi, saya menyampaikan salam perpisahan kepada beberapa rekan kerja. Banyak di antara mereka juga sudah pergi lebih dulu,'' sambungnya.***

Editor:hasan b
Sumber:merdeka.com
Kategori:GoNews Group, Kabar Bertuah
wwwwww