Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
Nasional
14 jam yang lalu
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
2
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
Nasional
12 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
3
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
Nasional
12 jam yang lalu
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
4
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Sepakbola
14 jam yang lalu
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
5
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
6
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Sepakbola
18 jam yang lalu
Askar Bertuah Telan Pil Pahit 1-3, Akhyar Ilyas Soroti Jadwal Padat dan Mental Skuad Pelapis
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Unri Teliti Potensi Bisnis Ikan Bakut Pelalawan karena Kaya Protein dan Bisa Dijadikan Obat Vitalitas di Singapura

Unri Teliti Potensi Bisnis Ikan Bakut Pelalawan karena Kaya Protein dan Bisa Dijadikan Obat Vitalitas di Singapura
Ir Eni Yulinda MP, peneliti bisnis ikan Bakut dari Unri
Senin, 17 Oktober 2016 10:16 WIB
PEKANBARU - Tim dosen Sosial Ekonomi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau (SEP FPIK Unri) saat ini tengah meneliti potensi bisnis ikan Bakut atau Betutu (Oxyeleotris marmorata) di Kabupaten Pelalawan. Ikan mahal berkualitas ekspor ini oleh nelayan setempat masih belum dilirik sebagai potensi bisnis yang menjanjikan.

Tim peneliti yang dipimpin Ir Eni Yulinda MP ini, Minggu (16/10) berada di pedesaan Kecamatan Bunut, menghimpun informasi dari para nelayan dan pedagang ikan Bakut. Tim terdiri dari Hazmi Arief SPi MSi, Ir Ridar Hendri MSi, didampingi penyuluh perikanan senior setempat, Syafrijum SPi.

Menurut Ir Eni Yulinda, survai ke sentra-sentra produksi ikan Bakut di Pelalawan sudah dimulai sejak pekan lalu, dan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan. Ini disebabkan, kondisi sungai dan perairan umum di Pelalawan sebagai daerah tangkapan ikan Bakut, secara geografis, sangat luas. "Jadi butuh waktu agak lama," ujar Linda yang juga Ketua Jurusan SEP FPIK Unri itu.

Disebutkannya, dari data sementara, potensi produksi ikan Bakut di Pelalawan cukup tinggi. Namun, nelayan setempat masih 'mengajak-tirikan' hewan air yang mirip ikan gabus ini. Soalnya di tingkat lokal, ikan ini kurang laku di pasaran. Hanya dihargai Rp 20 ribu sekilo. Padahal di pasar luar negeri semacam Singapura, harganya bisa sepuluh kali lipat.

Menjawab pertanyaan, Ir Eni Yulinda MP mengatakan, ikan tersebut mahal karena memiliki kandungan protein yang tinggi. Dari beberapa literatur terpercaya, ikan Bakut dipercaya bisa membantu memulihkan kesehatan pasien pasca operasi. ''Bahkan ada pula yang meyakini ikan Bakut bisa membantu mendongkrak vitalitas kaum pria," ujarnya tersenyum. ***

Editor:Hermanto Ansam
Kategori:Kabar Bertuah
wwwwww