Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
4
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
4 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
5
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  GoNews Group

Indonesia Police Watch: Bentrokan Berdarah di Kepulauan Meranti Riau, Bukti Polisi Masih Mengandalkan Fisik Daripada Otak

Indonesia Police Watch: Bentrokan Berdarah di Kepulauan Meranti Riau, Bukti Polisi Masih Mengandalkan Fisik Daripada Otak
Ketua Presidium IPW, Neta S Pane. (istimewa)
Jum'at, 26 Agustus 2016 17:14 WIB
Penulis: Muslikhin Effendy
JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyebut, kejadian bentrokan berdarah di Kepulauan Meranti Riau, membuktikan jajaran Kepolisian belum bisa memberikan rasa aman bagi warga. Bahkan dirinya menyebut kepolisian tidak pernah berubah.

"Kasus bentrokan warga dan kepolisian yang berujung tewasnya satu warga menunjukkan bahwa Polri tidak pernah berubah. Tidak profesional dan proporsional. Padahal elit-elit Polri selalu beretorika bahwa perubahan sudah dilakukan jajaran Kepolisian," ungkap Neta S Pane kepada GoNews.co, Jumat (26/08/2016).

Menurutnya, dengan tewasnya tersangka pembunuh Polisi di Polres Meranti, semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya kantor Polisi bukanlah tempat yang aman bagi pencari keadilan.

"Semangat pelayanan, mengayomi dan melindungi yang menjadi jargon Polri selama ini menjadi sebuah jargon kosong yang jauh dari kenyataan," imbuhnya.

Hal ini kata dia, karena Kantor Polisi masih dipenuhi oleh oknum-oknum yang mengedepankan arogansi. "Ini faktanya jangan ditutup-tutupi, bahwa Polisi masih mengedepankan kekuatan fisik ketimbang kekuatan otak," tukasnya.

Jika ini terus terjadi kata Neta S Pane, bukan mustahil kantor Polisi dan personil Kepolisian yang sebenarnya adalah aparatur keamanan, bakal menjadi musuh masyarakat dan menjadi tempat yang tidak nyaman.

"Untuk itu saya pikir Mabes Polri harus turun tangan menyelesaikan kasus ini. Polri harus menurunkan propam bukan hanya dari Polda Riau saja. Supaya kasus ini terusut tuntas dengan transparan," pintanya.

Dirinya juga meminta, agar Komnas HAM juga turut mengusut. "Komnas HAM harus segera mengusut kematian tersangka dan pendemo di Mapolres meranti. Komisi III DPR juga perlu memanggil Kapolri dan Kapolda untuk mempertanyakan apa yang terjadi sesungguhnya. Kasus ini tidak boleh didiamkan, sebab akan menjadi api dalam sekam yang akan terus menerus memicu permusuhan msyarakat dengan Polisi," pungkasnya. (***)

wwwwww