Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Gelanggang
12 jam yang lalu
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
2
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
3
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru Selidiki Akar Pohon Terbakar Usai Timpa Mobil di Jalan Jenderal Sudirman
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru Selidiki Akar Pohon Terbakar Usai Timpa Mobil di Jalan Jenderal Sudirman
4
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
5
Gagal Bawa Pulang Tiga Poin dari Bekasi, Pelatih PSPS Pekanbaru Apresiasi Mentalitas Skuad Askar Bertuah
Gelanggang
12 jam yang lalu
Gagal Bawa Pulang Tiga Poin dari Bekasi, Pelatih PSPS Pekanbaru Apresiasi Mentalitas Skuad Askar Bertuah
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah
Surel dari Negeri Paman Sam

Kartini Lebih Dulu Perjuangkan Emansipasi Daripada Perempuan Amerika

Kartini Lebih Dulu Perjuangkan Emansipasi Daripada Perempuan Amerika
Suasana demo perjuangan emansipasi wanita di Gedung Putih dulunya. (ist)
Sabtu, 23 April 2016 11:57 WIB

WASHINGTON DC - Tahun 1917 segelintir perempuan demo di depan Gedung Putih menuntut persamaan hak. Baru pada 1920 perempuan Amerika mendapatkan hak untuk mencoblos dalam pemilu. 

Dalam surat elektronik (surel) Irawan Nugroho dari AS, disebutkan, di belahan dunia lain di kota kecil Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, RA Kartini pada awal 1900-an sudah berpikir untuk memajukan hak kaumnya. Kartini masuk sekolah Belanda, pintar bahasa Belanda, suka baca koran Belanda De Locomotief, dan literatur-literatur dari negeri itu.

Kartini berpikiran avant garde, inovatif dan emansipatif. Jadi sebenarnya perempuan Indonesia beberapa tahun lebih dulu berpikir soal emansipasi daripada perempuan Amerika dalam konteks yang berbeda.

Sayang sekali Ibu Kita Kartini meninggal pada usia 25 tahun, tapi saya yakin pemikirannya tidak kalah dengan perempuan-perempuan yang demo di depan Gedung Putih itu. (***)

Editor:Calva
Kategori:Kabar Bertuah, GoNews Group, Bukit Raya
wwwwww