Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
Nasional
24 jam yang lalu
Cetak Sejarah di PN Jaktim, Jokowi Bersaksi Langsung Bawa Dokumen Asli Kelulusan UGM
2
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
Nasional
21 jam yang lalu
Aspirasi Desak Pemerintah Rilis Naskah UU Ketenagakerjaan Baru, Cegah Potensi Konflik Industrial
3
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
Nasional
21 jam yang lalu
BPS Umumkan Angka Pengangguran Agustus 2026 Capai 4,75 Persen, Sektor Pertanian Terbanyak Serap Pekerja
4
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Rilis Tangkapan Jaringan Narkotika, Polresta Pekanbaru Sita Puluhan Gram Sabu dan Ekstasi
5
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
Sepakbola
23 jam yang lalu
Drama Tiga Poin Real Madrid Kalahkan AEK Athens, Mourinho Singkirkan Peran Vinicius
6
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
Sail
19 jam yang lalu
Polresta Pekanbaru Bongkar Budidaya 53 Pot Ganja di Sail, Pengedar Terjebak Undercover Buy
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

LAPAN: Jangan Saksikan Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang

LAPAN: Jangan Saksikan Gerhana Matahari dengan Mata Telanjang
Gerhana Matahari Cincin. (sindonews.com)
Minggu, 21 Juni 2020 11:02 WIB
JAKARTA - Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi hari ini, Ahad (21/6/2020). Namun di Indonesia, hanya terlihat Gerhana Matahari Sebagian (GMS), itu pun tidak di semua daerah, dengan kegelapan kurang dari 50%.

Dikutip dari Okezone.com, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, mengingatkan warga tidak menyaksikan fenomena alam tersebut menggunakan mata telanjang. Menurut Thomas, tidak ada bedanya melihat GMC maupun GMS. ''Sama, harus berhati-hati dengan cahaya Matahari yang sangat kuat,'' ungkap Thomas.

Sambung Thomas, jangan paksakan melihat Matahari yang sangat silau. Untuk menyaksikan fenomena ini, perlu menggunakan kacamata filter.

''Gunakan peredup cahaya untuk melihat sekilas perkembangan gerhana. Lebih baik gunakan filter matahari atau kacamata matahari, kalau ada,'' sarannya.

Gerhana Matahari Cincin Api sendiri hanya akan terlihat di Asia Tengah sampai Asia Timur. Thomas menjelaskan, itu terjadi ketika Matahari-Bulan-Bumi dalam konfigurasi segaris.

Karena posisi bulan lebih jauh dari rata-rata jaraknya dari Bumi, ukurannya lebih kecil daripada Matahari. Jadi bulan hanya menutupi bagian tengah matahari, sehingga matahari tampak seperti cincin.

Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), di Indonesia, GMS akan melewati 432 pusat kota dan kabupaten di 31 provinsi.

Di Indonesia, lanjut BMKG, waktu mulai gerhana paling awal adalah di Sabang, Aceh, terjadi pukul 13.16.00,5 WIB. Sementara kota yang waktu mulai gerhananya paling akhir adalah di Kepanjen, Jawa Timur, yakni pukul 15.19.49,3 WIB.

Demikian juga waktu puncak Gerhana yang akan terjadi berbeda-beda di setiap daerah. Daerah di Indonesia yang akan mengalami waktu saat puncak gerhana paling awal adalah Kota Sabang, Aceh, yang terjadi pada pukul 14.34.52,4 WIB. Lalu kota yang akan mengalami waktu puncak paling akhir adalah Agats, Papua, yaitu pukul 17.37.26,3 WIT.

''Adapun waktu kontak akhir paling awal akan terjadi di Tais, Bengkulu yang terjadi pada pukul 15.06.39,8 WIB dan waktu kontak akhir paling akhir akan terjadi di Melonguane, Sulawesi Utara, pada pukul 17.31.44,9 WITA,'' tulis BMKG. ***

Editor:hasan b
Sumber:okezone.com
Kategori:Kabar Bertuah
wwwwww